DIKISAHKAN, dahulu kala di pedalaman Kalimantan Tengah ada seorang raja yang mempunyai tujuh putri. Semuanya masih gadis.
Karena sudah cukup umur mereka pun hendak dinikahkan. Sayangnya mereka belum memiliki calon. Sehingga, mau tidak mau, ayahanda mereka ikut campur tangan.
Sebagaimana lazimnya adat di zaman itu, jika ada seorang gadis tidak punya calon, ayahnya akan menggelar sayembara untuk mencari pemuda impian bagi sang anak.
Begitu juga yang dilakukan oleh ayahanda ketujuh putri tersebut. Karena, istananya terletak di pinggir sungai, sang raja lalu mengadakan sayembara untuk membangunkan kerajaan di pinggir sungai seberangnya.Tidak lama setelah sayembara diumumkan, datanglah enam pemuda mendaftar.
Dalam tempo tidak begitu lama, keenam pemuda itu berhasil menyelesaikan tantangan yang diberikan sang raja.
Namun, sayembara belumlah berakhir. Masih menunggu satu pemuda lagi untuk menyelesaikan satu tantangan lainnya, yakni membuatkan jembatan untuk setiap istana ke istana raja. Sebab keenam istana itu terletak berseberangan dengan istana raja.
Tunggu ditunggu, datanglah seorang ibu tua dan seekor biawak. Rupanya ibu tua ini adalah ibu dari biawak itu. “Hamba datang ke sini untuk mengikuti sayembara yang tuan paduka adakan,” jelas ibu tua.
“Tak masalah. Siapa pun dia bisa mengikuti sayembara ini,” kata sang raja.
“Nah, anakku, kamu sudah mendengar kata-kata raja sendiri kan? Berarti kamu boleh ikutan,” kata ibu tua kepada biawak.
Semua orang terkejut. Bagaimana mungkin seekor biawak bisa memiliki ibu manusia? “Apa tuan paduka ingin menarik ucapan sendiri?,” tanya ibu tua.
Sang raja berdiam diri sejenak, menimang-nimang. “Ya, aku sudah mengatakannya. Dan pantang bagiku menarik ucapanku. Baiklah, kamu ikutan biawak.”
Biawak pun langsung bekerja.
Sementara itu, raja berdiskusi dengan ketujuh putrinya. Dia bertanya siapakah di antara mereka yang ingin jadi istri biawak? Keenam putri raja tidak ada yang mau, kecuali si bungsu.
“Aku bersedia, ayahanda. Ini demi nama baik ayahanda yang telah berjanji kepada biawak untuk menikah salah seorang di antara putri ayahanda.”
Biawak rupanya bekerja terlalu cepat. Karena selesai berdiskusi, keenam jembatan sudah jadi.
Keesokan harinya digelarlah pesta pernikahan. Tampak, keenam putri raja bergembira, sedangkan si bungsu cuma muram. Ketika
malam tiba, dan semua pengantin baru ini ke kamar masing-masing hanya di kamar si bungsu tak terdengar suara cekikikan.
Namun, keesokan paginya, dia terkejut menemukan seorang pria tampan tidur di sisinya. Dia menjerit dan pengawal raja masuk ke kamarnya. Namun, tidak ditemukan pria tampan itu. Si putri hanya menunjuk biawak. Pria tampan itu sudah berubah kembali menjadi biawak. Tapi, tak seorang pun pengawal percaya.
Beberapa malam berikutnya si bungsu tidak lagi terkejut dengan kehadiran pria tampan itu. Justru dia bertanya mengapa suaminya bisa berubah jadi biawak. Kata suaminya, dia begitu karena dikutuk. Si bungsu kemudian ke sudut kamar, lalu membakar kulit biawak suaminya. Alhasil, suami si bungsu pun tidak berubah kembali jadi biawak. (Duniadongen/B-3)








