KASIHAN Burhanuddin. Petani berusia 60 tahun itu mengeluhkan hasil panenannya sejak 2004 mengolah sawahnya, hasilnya hanya sekitar 1 ton per hektare dalam setahun. Tidak ada kemajuan berarti. Warga Jalan Perwira Rang Bungur I, RT 7, Kelurahan Mendawai, Pangkalan Bun Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah itu,  merasa ‘sendiri’. Tidak tahu harus mengadu ke mana?.


“Teknologi pertanian sudah berkembang, tetapi selama ini kami bertani seperti orang jaman dulu saja. Panen hanya berhasil didapatkan setahun sekali,” begitu curhat pria yang karib disapa Pak Udin itu, kepada Borneonews, akhir pekan lalu.


Pagi itu, Pak Udin terlihat sibuk membersihkan sisa jerami dari tumpukan gabah di depan rumahnya. Menggunakan peralatan keranjang plastik, sisa jerami ditumpukan gabah tersebut, dikumpulkan dan dimasukkan ke karung pengumpul jerami. Gabah 2 ton tersebut hasil dari 2 hektare sawahnya di Desa Tanjung Terantang. 


Burhanuddin iri pada para petani di daerah lain, yang lebih maju. Di televisi, ia mengaku pernah menonton berita, di Pulau Sumatera, hasil panen padi petani, luar biasa. Dalam setahun bisa dua kali panen, dengan hasil satu hektare 4 ton. “Panen saya hanya cukup untuk dimakan sendiri. Bila hasil empat ton sehektare, hasilnya bisa untuk menambah kesejahteraan keluarga.”


Burhanuddin dan kawan petani di kelompok tani Mendawai Raya VI, jelas ingin seperti petani maju itu. Namun, mereka harus memendam hasrat seperti itu. Soalnya, ia dan teman-teman kelompok tani, tidak pernah mendapatkan pengetahuan bagaimana meningkatkan hasil pertanian dari penyuluh. Bantuan alat pertanian pun, tak pernah sampai ke mereka.


Burhanuddin berharap kelompok taninya juga dapat mengembangkan pola pertanian efektif dan efisien, yang diinisiasi PT Kalimantan Mitra Mandiri (KMM). Perusahaan berbasis di Palangkalan Bun, di bawah Group Borneonews dan Palangka Post itu, sedang melakukan pendampingan kepada pe-tani Desa Sebuai, Kecamatan Kumai.


Dengan menggandeng tim ahli pertanian dari Universitas Sebelas Maret (UNS) pimpinan Dr Edy Waluyo, PT KMM memperkenalkan petani pada agroteknologi dan agrobisnis. Diharapkan, pola pendampingan terhadap para petahi tersebut juga bisa diterapkan pemerintah dan bahkan instansi swasta guna meningkatkan hasil pertanian. (YD/*)