BORNEONEWS- Kuala Kapuas : Dengan tanpaalasan, Sofianur mengayunkan parang yang ada di tangannya. Dan, leherayahnyapun terbelah.  Syarkani, sebagaiayah, tak sempat berkata-kata hingga menghembuskan nafas terakhir.  Setelah ditebas, ia bersimbah darah danroboh.

Kapolres Kapuas AKBP H Hendra Rochmawan SIKMH melalui Kasat Reskrimnya AKP Wiwin JS kala dikonfirmasi Senin (28/3)membenarkan hal itu. "Memang ada laporan warga, dan sesuai keterangansaksi yakni Mahrita isteri korban maka kami mengamankan Sofianur yang didugasebagai pelakunya. Sedangkan Syarkani diduga tewas di tempat dengan 1 lukatebasan parang dengan panjang luka sekitar 20 cm di leher sebelahkanannya," terang AKP Wiwin.

Kemudianlanjutnya, untuk pengakuan sementara pelaku, dirinya mengaku saat itu merasakehilangan akal sehat dan tidak sadar melakukan hal itu. "Menurut ibunya,pelaku dalam 1 bulan terakhir mempelajari ilmu tasawuf dan sejak itu dia seringkesurupan," ujar Kasat Reskrim.

Kasusini,  tambah AKP Wiwintetap diproses karena merupakan tindak kriminal murni dan pelaku akan dijeratpasal 338 KUHP tentang pembunuhan dengan ancaman 15 tahun penjara. "Kamijuga akan memeriksakan psikologis pelaku. Pelaku kini sudah ditahan di seltahanan Mapolres Kapuas," tukas AKP Wiwin.

Sementaraitu, Sofianur alias Upi kala ditemui di ruang Satreskrim Polres Kapuas mengakudirinya melakukan itu dalam keadaan tidak sadar. Iaounmengaku tak ada maalahdengan ayahnya. Sepanjang hari  merekaberdua berada di sawah mencari ubi.

"Siangnyasaya bersama ayah pergi ke sawah, dimana ayah mencari galam dan saya mencariubi, semuanya baik-baik saja hingga malam. Saya tidak tahu, tiba-tiba sayaberada di mushola dan dibawa ke rumah paman saya. Saya hanya bisa menangis saatdiberi tahu ayah saya sudah meninggal," ucap Sofianur  sambil menangispenuh penyesalan dan memanggil-manggil nama ayahnya. (sri/*)