ADAyang ganjil ketika kita mengamati keramaian di jalan raya. Dari hari ke hari,ternyata semakin banyak sepeda motor tanpa pelat nomor atau yang disebut nomorpolisi.
Celakanya,bukan hanya motor yang tanpa pelat nomor. Mobil dan truk, sering kita jumpai tanpa pelat nomor. Atau jika pakainomor, sudah kadaluwarsa.
Dalamhati, kita bertanya-tanya, apakah gerangan yang terjadi pada motor-motor itu. Motorcuriankah itu? Motor bodongkah itu?
Pertanyaanitupun terasa aneh, karena motor yangtanpa pelat nomor itu jumlahnya sangat-sangat banyak. Dalam satu kabupaten sajaada ribuan, bahkan ada puluhan ribu.
Jumlahitu terungkap dari salah seorang petugas di Kantor Bersama Manunggal Satu Atap(Samsat) Pangkalan Bun. Dari petugas ituterungkap, persoalan pelat yang belumselesai dicetak itu terakumulasi sejak tahun 2014, 2015 hingga saat ini 2016.
UntukKotawaringin Barat saja, di tahun 2014, ada tambahan kendaraan baru sebanyak 12.667 roda dua dan 1.022 roda empat ke atas. Dan tahun 2015, ada 7.771kendaraan bermotor roda dua dan 1.154 kendaraan bermotor roda empat ke atas
Itu artinya dalam dua tahun(2014 dan 2015) ada tambahan 20.438sepeda motor baru. Sedangkan untuk mobil ada 2.176 unit mobil baru. Ditambah jumlah mobil lama yang habis umurSurat Tanda Nomor Kendaraan (STNK)-nya dipastikan jauh-jauh lebih banyak.
Bisa kita bayangkan, untuk diKotawaringin Barat saja, saat ini ada 20.438 motor baru tanpa pelat nomor. Dan jumlah motor lama yang tanpa plat nomorpasti jauh lebih banyak lagi.
Sudah pasti, sulit bagi kitauntuk membayangkan hal itu terjadi di seluruh kabupaten/kota yang ada diprovinsi Kalimantan Tengah ini.Dipastikan ada ratusan ribu sepeda motortanpa pelat nomor.
Kita ingin mengajak para pembaca, para pemangku kepentingan untuk bertanya. Apakah arti danmanfaat pelat nomor dalam kendaraan kita? Apakah pelat nomor itu kita anggap sebagai hal yang penting di dalamkehidupan kita? Atau, hanya asesoris yang sama sekali tidak ada gunanya?
Kenyataan adanya ratusan ribu sepeda motor tanpa plat nomor, jelas bahwa ada soal yang sangat serius dalam tata kelola/admninistrasikendaraan kita. Dan persoalan yang menumpuk dari tahun ke tahun, menunjukkantidak adanya penyelesaian yang tuntas dan struktural di lingkungan pemangkukepentingan.
Puluhan ribu pelat nomor yangtidak kunjung kelar, jelas mengundangkecurigaan, bahwa pengadaan pelat nomor adalah sebuah proyek/bisnis besar. Motoryang tanpa pelat nomor, jelas memberiindikasi ketidakberesan. Motor tanpa pelatnomor, jelas mengundang kejahatan. Para pencuri, para maling, sudah pasti senang! Aneh bin ajaib jika pemangku kepentingan tidakmemiliki <>sense of urgency<> atas soal ini.








