BORNEONEWS, Pangkalan Banteng - Puluhan warga Desa Karang Sari, Kecamatan Pangkalan Banteng, Kabupaten Kotawaringin Barat silih berganti menjaga ladang jagung. Siang dan malam mereka rela berjaga dan mengawasi jagung hibrida yang tinggal beberapa hari lagi panen. Mereka rela sampai menginap di gubuk karena belasan hektare kabun jagung yang siap panen itu sering di arah oleh hama babi dan beruk.
Serangan dua jenis hewan itu membuat masyarakat resah, karena selain merusak, juga akan membuat panen menjadi gagal.
"Sudah dua pekan ini para petani jagung setiap hari digilir dua orang untuk berjaga di kebun," kata Kepala Desa Karang Sari, Risnanto kepada Borneonews, Selasa (29/3/2016).
Dia mengaku, setelah ladang jagung seluas 15 hektare itu dijaga, kondisinya aman dari serangan hama babi dan beruk. Warga yang berjaga membekali diri dengan peralatan pengusir hama. Ada yang membawa tombak, parang juga senapan angin.
"Saat ada serangan dan belum ada penjagaan, kurang lebih satu hektare jagung habis dirusak hewan itu. Dan Biasanya, babi dan beruk itu datangnya pagi dan sore, tapi sampai sekarang belum ada satupun yang tertangkap oleh masyarakat," jelas dia
Risnanto memperkirakan, pemanenan jagung akan dilakukan setelah menunggu kering, supaya kadar air yang ada di pipilan jagung nantinya rendah.
"Panennya masih nunggu kering dulu jagungnya, kami khawatir dengan serangan hama binatang ini merusak dan menggalkan panen. Soalnya penanaman jagung ini perdana dan panennya juga perdana nanti," terangnya.
Namun saat Borneonews menyambangi perkebunan jagung yang sudah sudah siap panen di atas lahan 15 hektare tersebut tidak nampak satu orang pun yang berjaga. Kata Risnanto, saat siang hari warga yang berjaga pulang ke rumahnya masing-masing, sekitar pukul 15.00 WIB mereka baru kembali lagi ke perkebunan. (CECEP HERDI/m)


