SEKTOR pertanian dan per­ke­bun­an menjadi mata pencaha­ri­an uta­ma masyarakat Desa Bu­kit Sungkai, Kecamatan Ba­lai Riam, Kabupaten Suka­mara.


“Untuk saat ini sektor per­­kebunan dan pertanian ma­sih merupakan andalan pen­dapatan asli masyarakat dan ini terus dipertahankan ser­ta terus dikembang lagi. Na­mun pemerintah desa tetap akan te­r­us mencari dan mengali po­tensi kekayaan yang ada di de­sa kami,” kata Kepala Desa Bu­kit Sungkai, Maryono kepada Borneonews, Sela­sa (29/3/2016).


Ia mengungkapkan, perke­bun­an kelapa sa­­wit yang meng­hampar di wi­layah Bu­kit Sungkai diduku­ngan de­ngan keberadaan perusaha­an telah mendongkrak per­­ekono­mian masyarakat de­sa.


“Dengan potensi yang ada te­n­tu perekonomian masya­ra­­kat cukup meningkat,” ujar Maryono lagi.


Sayang, sektor pertanian, khususnya padi, ma­sih ke­cil. Kecilnya kawas­an per­ta­nian disebabkan ki­an men­jamurnya lahan per­ke­bun­an. Sehingga untuk pe­ngem­ba­ng­an lahan perta­ni­an tidak da­pat dilakukan dalam sa­tu ham­paran penuh.


Meski begitu, petani padi di Desa Bukit Sungkai tetap bi­sa me­­lakukan panen hingga ti­­ga kali setahun untuk jenis unggul.


“Bisa tanam padi ti­ga kali dalam setahun untuk pertanian, tentu bukan dikarenakan tanahnya sangat subur, se­bab pada umumnya tanah yang ada di Desa Bukit Sung­kai sama saja dengan desa yang lain. Namun karena adanya ke­inginan dari para pe­tani untuk bercocok tanam. Bahkan walaupun pa­­da saat mu­sim kemarau, pe­tani tetap bercocok tanam dengan melakukan ber­ba­gai cara untuk dapat men­galiri lahan mereka dengan air,” tuturnya.


Ia melanjutkan, luas lahan petanian di Desa Bukit Sung­­­kai saat ini hanya 50 hek­­tare. Dan untuk pengem­ba­­ngan disediakan seluas 20 hek­tare. Namun tempatnya ter­pisah atau tidak dalam sa­tu hamparan.


“Meskipun begitu, kita akan terus genjot pertanian di sini, sehingga  perekonomi­an masyarakat semakin baik” janji Maryono. 

(MG13/B-3)