DIAM-diam saya mencintai Muhammad Rakhman. Senyum lebar pria berkulit sawo matang itu, seperti menjanjikan ketulusan.


Usianya belum lagi 30 tahun, kelahiran 1987 itu, sudah berkiprah di tingkat nasional. Pemegang dua gelar sarjana (SE dan ST) itu, tercatat sebagai anggota DPD RI 2014-2019. Ia dilantik Selasa (20/10/2015) siang, menggantikan Habib Said Ismail yang ikut Pilgub Kalteng 2016-2021.


Dengan prestasi seperti itu, Rakhman memiliki kesempatan besar menjadi tokoh nasional berkualitas. Bayangkan anak muda asal Kotawaringin Barat, bergaul, dan berinteraksi dengan beragam manusia hebat dari berbagai wilayah di Tanah Air. Tidak banyak orang dari Bumi Tambun Bungai, yang beruntung seperti itu. 


Sebagai senator, teman-temannya pastilah orang-orang hebat, setidaknya di level parlemen, DPD RI dan DPR RI. Terpilih sebagai anggota dewan, di tingkat pusat, pastilah hanya orang-orang luar biasa yang bisa. Sebagai wakil rakyat di pusat, ia pasti tidak kesulitan bertemu dan berbincang santai dengan pejabat tinggi sipil, militer, juga para pakar jempolan. Jalan karir lebih lebar baginya, membentang di depan mata.


Karena itu, saya menyayangkan ketika Muhammad Rakhman memutuskan ikut dalam pemilihan umum kepala daerah Kobar 2017-2022. Pekan lalu, ia sudah mengisi dan mengembalikan formulir kesediaan sebagai kandidat calon bupati, dari salah satu partai politik. 


Tanpa bermaksud mengecilkan ‘kursi bupati’, rasa-rasanya itu sudah tidak cocok dengan tongkrongannya yang telah menasional. Seragam putih-putih, juga sepatu putih kepala daerah tingkat II, sudah terlihat kecil untuk senator muda itu. Semua itu tak lagi cocok untuknya.


Apa yang Rakhman cari dengan mengincar jabatan Bupati Kobar? Alasan untuk mengabdi dan membangun Bumi Marunting Batu Aji, terlalu retoris, linear, sehingga bisa-bisa tidak membumi. Karena, jangan-jangan kebutuhannya yang lateral, gebrakan bukan lagi sekadar gerakan.


Saya tulis surat cinta ini, agar Rakhman menganulir keputusannya. Saya menyayanginya sebagai anggota dewan di pusat, yang memiliki peluang besar berkiprah di ‘wadah’ lebih besar dan luas dari pada sekedar kepala daerah. Saya mengharapkan namanya berkibar di angkasa dan ruang nan lebih luas lagi. Majulah anak muda!


Sekumpulan anak muda kreatif yang telah mendeklarasikan diri dan bergabung dalam Sahabat Muda Rakhman (SMR), tetaplah bekerja, tetapi mengawal Rakhman menuntaskan keanggotaannya di DPD RI. Jadilah think tank yang bisa mematut-matut Muhammad Rakhman menjadi tokoh besar.


Atas nama cinta pula, surat terbuka ini saya tujukan untuk Rahmat Nasution Hamka, yang dilantik 5 Oktober 2015, menjadi anggota DPR-RI 2014-2019 sebagai PAW Willy M Yoseph yang maju dalam Pilgub Kalteng. Juga buat Hamdhani, anggota Komisi IV DPR RI.


Rakhman, Rahmat dan Hamdhani janganlah tergoda bertarung dalam Pilkada Kobar 2017. Kursi itu sudah terlalu ‘kecil’. Selesaikan saja masa pengabdian di Senayan, hingga 2019. Wujudkan semua janji kampanye. Jangan kecewakan konstituen yang sudah memberikan dukungan. 

(B-10).


Oleh : Nazir Amin

Wartawan Senior Borneonews