PANGKALAN BUN - Pasca mendapatkan pinjaman buku dari Kantor perpustakaan dan Arsip daerah (KPAD) Kotawaringin Barat (Kobar), semakin memnggugah semangat Hamid untuk mengajak anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya untuk belajar di Rumah Pintar Sanggar Rahmat Abah.
“Pada awalnya rumah pintar saya hanya mendapatkan 50 eksemplar. Tetapi bulan berikutnya saya malah diberi pinjaman 100 eksemplar. Keruan hal itu semakin menambah semangat saya. Hingga saat ini kami juga tetap disupport oleh KPAD Kobar. Bahkan kami juga saat ini menjadi peserta pendampingan perpustakaan dan mendapatkan bantuan tiga unit komputer dari program Perpuseru ,” ujarnya dengan ekspresi wajah gembira.
Semakin banyaknya jenis buku yang tersedia di rumah pintar yang dibangunnya, juga menarik minat anak-anak dan remaja untuk ikut serta dalam program turut belajar bersama.
“Buku tersebut saya pinjam dari KPAD Kobar berdasarkan daftar pesanan anak-anak. Selain belajar mengaji, peserta belajar di rumah pintar ini juga diajarkan berkesenian Hadrah. Mereka juga dipersilakan memimjam buku. Saya sengaja tidak menarik pungutan apapun kepada peserta belajar. Tidak peduli anak orang kaya atau miskin, semua boleh ikut serta,” jelasnya.
Karena semakin banyaknya anak yang turut belajar dirumahnya, ruang tengah rumahnya tersebut akhirnya tidak mampu lagi menampung peserta belajar.
“Sekitar awal tahun 2015 saya berniat untuk membuatkan bangunan permanen sebagai rumah pintar ini. Urusan pendanaan saya usahakan cari sendiri dengan menyisihkan uang yang saya dapatkan sebagai ojek langganan antar jemput anak sekolah, berjualan mainan anak-anak,” jelasnya.
Ia mengakui, memang tidak mudah untuk mendapatkan uang dan restu dari Masna (60) ibunda Hamid untuk mengembangkan rumah pintar tersebut. “Saya rasa hal itu wajar. Karena orang tua saya kuatir bagaimana masa depan saya, bagimana saya bisa memperoleh penghasilan bila memberikan pelajaran tanpa memungut biaya apapun dari peserta belajar,” jelasnya.
Meski demikian Hamid tetap teguh dengan pendiriannya. “Setelah selama enam bulan meyakinkan ibu saya, akhirnya beliau memberi restu. Bahkan ibu saya juga rela menjual perhiasan miliknya dan melobi keluarga saya untuk menjual sebidang tanah berukuran 8 x 15 meter yang berada didekat rumah saya. Lokasi tersebut sepertinya cocok untuk dibangun sebagai tempat belajar,” jelas Hamid. (Yudha Manx/B-12)


