PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Akedemisi Teknik Informatika Universitas Palangka Raya Rony Teguh menjelaskan, terkait adanya kasus pemerasan melalui dunia maya. Karena korbannya dengan sadar melakukan video call tanpa busana. Pemerintah perlu melakukan edukasi. 

“Pelaku pemerasan, kita tidak tahu dimana lokasi persisnya. Apalagi pelaku menggunakan akses internet VPN, yang lokasinya selalu berubah-ubah dan ini tentu menyulitkan penegak hukum,” ungkapnya, Selasa, 4 Juli 2023

Dalam kasus video call pelaku bisa saja melakukan sistem random dalam memilih korbannya dengan berbagai macam modus pendekatan terhadap korban. Jika pelaku melakukan aksinya dengan random dalam melakukan video call .

“Pertama kita jangan meresponnya. Kita harus kenal terlebih dahulu baru kita mengangkat video call tersebut,” bebernya.

Selanjutnya melakukan proteksi terhadap nomor tidak dikenal atau spam itu tidak diangkat dulu. Kalaupun itu sudah diangkat segera dimatikan saja. Karena melindungi dari aktivitas kejahatan lanjutan setelah itu.

“Untuk video call tidak pantas. Pelaku bisa saja menggunakan rekayasa engineering atau rekayasa sosial jadi dia mengambil gambar orang lain menggunakan wajah yang tampan dan cantik, untuk menjebak korbannya,” timpalnya.

Rony Teguh menambahkan, dalam video call. Pelaku bisa saja menggunakan deepfake yang merupakan salah satu bentuk kecerdasan buatan (AI) yang mampu mengubah video call dengan wajah orang lain. “Saya mengimbau kepada masyarakat, untuk tidak melakukan video call tanpa busana,” tegasnya.

--page

Ia juga melanjutkan, jika sudah tercapture kamera bisa dilakukan kejahatan lebih lanjut, artinya dimana pelaku kejahatan. Jika sudah menjadi korban, karena yang bentuknya privasi yang diserang adalah rasa malunya.

“Biasanya orang yang menjadi korban ini, lebih banyak yang berumur di bawah 40 tahun,”pungkasnya. (APRIANDO/R)