PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Representasi perempuan di politik telah diatur di Indonesia bahwa diharuskan 30 persen perempuan ikut berpartisispasi di dalam parlemen. Namun, hingga kini, peran perempuan di Indonesia belum memenuhi kuota tersebut.  

Representasi perempuan dari bidang parlemen masih cukup jauh untuk bisa mengangkat atau memperjuangkan isu perempuan sendiri di ranah politik ini. Banyak faktor yang mempengaruhi seorang perempuan dalam berpolitik.

Seperti yang disampaikan narasumber, Allya Natasya A, DPW Partai Solidaritas Indonesia DKI Jakarta melalui acara webinar online yang diselenggarakan oleh Women's Empowerment Indonesia (WEI) pada Minggu, 2 Juli 2023 dengan tema "Representasi Perempuan di Politik". 

"Kadang ada rasa takut ketika perempuan itu mau turun untuk mengambil bagian menjadi mengambil ataupun pembuat kebijakan. Apalagi temen-temen perempuan yang sudah berkeluarga, kalau mau nyaleg izin dulu ke suaminya, keluarga dan juga nanti mikir lagi, entar kalau aku kampanye anak aku yang jagain siapa, yang beresin rumah siapa," ujar Allya.

Hal tersebut membuat representasi perempuan dalam politik-pun mempunyai banyak tantangan. Ketika perempuan sebelum terjun ke dunia politik, banyak sekali yang harus dipertimbangkan. 

"Belum lagi mendapatkan tantangan dari lingkungan sekitar ketika masuk politik, misalkan 'wah jangan kelamaan nih berkarirnya nanti susah dapat jodohnya,' terus misalkan lagi 'iya nanti nikahnya habis pemilu, wah habis pemilihan keberapa tuh'," jelas Allya. 

--page

Kemudian, dalam acara tersebut disampaikan pula oleh narasumber lain yang telah diundang WEI yaitu Founder Yayasan Rumah Ramah Indonesia, Evi Novianti yang menjelaskan bahwa peran perempuan dalam parlemen sangatlah penting, seperti partisipasi perempuan dalam mengambil keputusan publik. Hal ini juga perlu mendapat dukungan.

"Peran politik perempuan merupakan suatu wujud nyata dari eksistensi perempuan dalam perpolitikan di Indonesia. Perempuan selayaknya memperoleh persamaan hak dibidang politik, perempuan tidak lagi di nomor duakan, perempuan jangan dipinggirkan, serta perempuan harus memberikan kontribusi nyata dalam pengambilan kebijakan," jelas Evi.

Melalui kegiatan tersebut, disebutkan bahwa representasi perempuan di parlemen tentunya memiliki dampak positif seperti adanya pemberdayaan perempuan, peningkatan kualitas SDM, pembangunan perspektif gender, hingga mengikis budaya patriakis. (NURITA/Y)