BOBOT utama penyebab deflasi di Kota Palangka Raya karena turunnya harga ikan gabus yang memberi andil tertinggi 0,09%.
Disusul turunnya harga daging ayam ras, telur, dan tarif listrik. Sedangkan andil inflasi dipicu naiknya harga bawang merah, pesawat udara, dan ikan baung dan nila.
Kondisi ini membawa Maret mengalami inflasi -0,04%. Lalu di Sampit mengalami deflasi lebih besar dari Palangka Raya.
Yaitu 0,34 % yang dipengaruhi kelompok bahan makanan. Antara lain daging ayam ras, ikan selar, ketimun dan beras, sedangkan penaikan harga cukup signifikan pada bawang merah, sama kondisinya dengan di Palangka Raya disusul tomat, cabai, dan bawang putih.
“Inflasi di Kalteng pada Maret adalah -0,15% atau deflasi 0,15%. Sama dengan bulan lalu yang juga deflasi. Kalteng di posisi 29 seluruh Indonesia dan merupakan inflasi cukup rendah,” kata Kepala BPS Kalteng, Hanif Yahya, Jumat (1/4/2016).
BPS masih menunggu pola pemerintah daerah untuk mengontrol harga di pasaran.
Dimana grafik inflasi di Kalteng polanya menurun di awal tahun dan menaik pada April.
Sedangkan kondisi secara nasional, inflasi karena harga bawang merah juga merebak.
Komoditas ini sumbang inflasi sebesar 0,16%. Kepala BPS pusat, Suryamin dalam paparannya menyebut kondisi ini akibat penyusutan panen di daerah lumbung bawang merah.
Disusul naiknya cabe merah dengan andil 0,13% yang disebut karena kurangnya pasokan dari sentra produksi. (RZ/B-6)


