PEMASARAN hasil pertanian masih jadi persoalan, khususnya soal rendahnya  kualitas sehingga sulit bersaing di pasaran.


Menurut Ketua DPRD Kabupaten Pulang Pisau Maruadi,  hal tersebut menjadi salah satu hal penting yang harus diperhatikan karena akan memengaruhi masalah pemasaran atau produksi pertanian keluar.


Menurut Ketua Fraksi Golkar itu, yang menjadi masalahpemasaran pertanian karena belum ada yang mampu bekerja menuntun petani agar dapat berusaha tani secara profesional dan komprehensif.


“Selain itu, sepertinya masih belum ada perencanaan pembangunan pertanian yang berbasis pada peluang atau informasi kebutuhan pasar yang layak. Penanaman komoditas hanya sekadar saja tidak melihat pada kebutuhan pasar yang mendesak,” imbuh Maruadi.


Kebanyakan petani, kata dia, hanya menanam jenis tanaman atas keinginan, kebutuhan atau bahkan karena tradisional saja. Prosedur perencanaan pembangunan pertanian yang dibuat pemerintah itu sudah baik. 


Itulah pentingnga apa yang sudah dituangkan dalam RPJMD, RPKD, Renstra menjadi tuntunan daerah dalam membangun, termasuk membangun bidang pertanian.


Dalam bidang pertanian ada angka yang ingin dicapai untuk jangka waktu tertentu, tetapi itu umumnya baru terbatas pada angka luas dan produksi. Belum tampak pada setiap perencanaan menyebutkan angka capaian break event point (BEP) per komoditi, angka pendapatan persatuan luas, angka tingkat pendapatan petani, angka tingkat pendapatan tenaga kerja. Umumnya yang disebut, angka sasaran produksi. 


“Kondisi ini dianggap menjebak pelaku usahatani saat panen. Di pihak lain pejabat mungkin bangga target produksi dicapai.” (DY/B-5)