BORNEONEWS, Pangkalan Banteng - Sekitar 400 pelanggan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Tekom) di Kecamatan Pangkalan Banteng, Kabupaten Kotawaringin Barat menyayangkan layanan jaringan internet rumah dan perkantoran semakin buruk.
Buruknya jaringan ini sudah dirasakan para pelanggan sejak tiga bulan lalu. Namun sampai hari ini, belum ada perubahan sama sekali. Lantas, para pelanggan ini kesal dan mendesak pihak Telkom supaya menyediakan layanan yang kembali normal. Pasalnya, para pelanggan ini membayar tarif langganan paket internet dan telepon rumah mulai Rp275 ribu hingga Rp1 juta lebih. Tapi mereka kecewa, meski jaringan tengah dalam kondisi terpuruk namun tagihan tetap normal.
"Saya minta Telkom ini jangan leletlah, setiap melapor ratusan kali tetap saja tak digubris. Beda sama layanan publik lainnya yang cepat tanggap," ungkap seorang pelanggan Telkom yang enggan disebutkan namanya kepada Borneonews, Jumat (1/4/2016).
Borneonews menerima aduan langsung dari salah satu pelanggan tersebut, ia meminta supaya Telkom memberi kebijakan jika kondisi jaringan rusak maka pelanggan jangan dibebankan pembayaran seperti kondisi jaringan sedang dalam keadaan normal. Ia begitu kesal, sampai mengancam akan berhenti menjadi pelanggan jika kondisinya seperti ini terus.
"Dalam satu hari itu, satu jam koneksi jaringan normal, setelah itu putus sama sekali tidak bisa konek ke jaringan internet, kan rugi. Ini berlangsung setiap hari," jelasnya.
Pantauan di lapangan juga, para anggota kepolisian dari Polsek Pangkalan Banteng nampak kesulitan saat ingin menggunakan layanan jaringan internet. "Jaringannya mati lagi, padahal ini sudah tiga kali diganti modem internetnya," ungkap seorang petugas Polsek yang tengah piket di Mapolsek Pangkalan Banteng.
Telkom adalah perusahaan BUMN yang menyediakan layanan informasi dan komunikasi (infokom) terbesar di Indonesia. Namun pantauan di Kecamatan Pangkalan Banteng, layanan perusahaan BUMN ini tak sebesar namanya. Hampir seluruh warga yang berlangganan Telkom mengalami kekecewaan yang serupa.
Sebut saja Ari, ia bahkan sampai rela menutup usaha warnetnya karena jaringan internet speedy Telkom buruk. Ia memilih sementara waktu beralih usaha jualan pulsa, karena menurutnya jika mempertahankan usaha warnet, tak dipungkiri bisa terjadi gulung tikar. Ditambah aliran listrik PLN saat ini sering biarpet.
"Gak kuat, Mas. Mending usaha ini dulu (red, konter pulsa). Internet Telkom sering tidak konek, listrik sering mati. Cari usaha yyang aman dulu sementara waktu," katanya.
Tak hanya kali ini saja, seperti diberitakan Bornenews sebelumnya edisi Rabu (3/3/2016), para pelanggan Telkom di Pangkalan Banteng menuntut perhatian perbaikan jaringan internet dari pihak Telkom yang sering mati. Bahkan sebelumnya pada edisi Senin (4/1/2016) jaringan internet Telkom Speddy lumpuh total hampir sepekan lebih akibat cuaca buruk.
Kekurangan Tenaga Lapangan
Asisten Manager Sales dan Customer Service PT Telkom Pangkalan Bun, Didik Djatmiko mengakui layanan jaringan internet di Pangkalan Banteng sedang terganggu. Sebab, satu pekan ini sedang dalam proses peningkatan jaringan dari kabel tembaga ke fiber optik (FO).
"Kalau kejadiannya sudah beberapa bulan itu karena gangguan petir, juga listrik PLN yang sering padam. Untuk bulan ini kami memang ada peningkatan jaringan, target tiga minggu lagi selesai," kata dia.
Terkait pelayanan yang lambat, didik mengamini jika di Pangkalan Banteng sendiri masih kekurangan tenaga tekhnis di lapangan yang siap memperbaiki jaringan di rumah pelanggan.
"Ke depan akan terus kita perbaiki, baik dari jaringan maupun sumber daya manusia," katanya.
Ia meminta maaf kepada seluruh pelanggan di Kecamatan Pangkalan Banteng atas ketidaknyamanan jaringan akhir-akhir ini.
Mengenai kebijakan penghapusan biaya langganan, pihak Telkom memiliki kebijakan tersebut. Asalkan pelanggan saat mengalami putus koneksi internet melapor langsung ke CS Telkom atau langsung mendatangi kantor Telkom di Pangkalan Bun.
"Laporkan saja, nanti kan ada catatannya, kebijakan itu ada selama pelanggan mau melapor," pungkas Didik. (CECEP HERDI/m)


