BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Dinas Pertanian (Distan) Kotawaringin Barat (Kobar) terus menyosialisasikan terkait proses sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) bagi perkebunan kelapa sawit dan target pemerintah RI Tahun 2025.
Kepala Distan Kobar Kris Budi Hastuti pada Senin, 17 Juli 2023 mengatakan, selain menyosialisasikan aturan pemerintah tersebut pada petani kelapa sawit swadaya atayu mandiri, pihaknya juga menyosialisasikan hal tersebut pada perusahaan perkebunan besar dan NGO untuk turut serta mendampingi petani sawit mandiri agar bisa mendapatkan sertifikasi ISPO.
"Karena bila 100% proses mendapatkan sertifikasi tersebut dilakukan oleh petani mandiri, mohon maaf saya pesimis target pemerintah bahwa perkebunan sawit masyarakat sudah harus ada sertifikat ISPO bisa tercapai," jelas Kris Budi Hastuti.
Menurut Kris Budi Hastuti, pihaknya sangat mengapresiasi salah satu perkebunan kelapa sawit yang beraktivitas di Kobar yaitu PT Sawit Sumbermas Sarana (SSMS), Tbk - Citra Borneo Indah (CBI) Group yang sudah mendampingi petani sawit yang tergabung dalam Asosiasi Petani Kelapa Sawit Mandiri (APKSM) Kobar untuk mendapatkan sertifikasi secara internasional yaitu Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
"Kami yakin PT SSMS, Tbk juga bakal mendampingi para petani kelapa sawit mandiri binaannya untuk mendapatkan sertifikasi ISPO. Karena dalam hal teknis pengurusannya juga hampir sama," jelas Kris Budi Hastuti.
--page
Kris Budi Hastuti berharap, perusahaan perkebunan kelapa sawit besar lainnya yang ada di Kobar juga bisa mendampingi para petani sawit mandiri di sekitar perusahaannya untuk mendapatkan sertifikasi ISPO dan RSPO.
"Karena dengan memiliki sertifikasi tersebut, tentuya pihak perusahaan juga bisa membeli hasil kebun masyarakat petani sawit mandiri dan tidak melanggar aturan perdagangan produk turunan kelapa sawit Indonesia dan internasional. Selain itu dengan memiliki sertifikasi tersebut, para petani mandiri juga memiliki pengetahuan untuk mengelola perkebunan sawit secara ramah lingkungan dan berkelanjutan," jelas Kris Budi Hastuti. (WAHYU KRIDA/Y)









