BORNEONEWS, Sampit - Empat narapidana Klas II B Sampit yang kabur pada Minggu (3/4/2016) sekitar pukul 02.00 WIB dini hari diduga kuat masih berada di daerah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).


Kapolres Kotim AKBP Hendra Wirawan mengatakan, hingga saat ini keempat napi kabur tersebut belum juga tertangkap. Namun mereka akan terus berupaya untuk mencari tahu dan meringkus empat orang tersebut.


“Para intel dan buru sergap (buser) sudah kami terjunkan, dan mudah-mudahan dalam waktu dekat mereka dapat ditangkap,” ujar Hendra.


Polisi menduga, keempat tarpidana kasus pembunuhan dan pemerkosaan tersebut hingga saat ini masih berada di sekitar Kabupaten Kotim. Walaupun keluar daerah, kemungkinan besar hanya lari ke kabupaten tetangga, atau Provinsi terdekat.


Selain itu, ada dugaan kuat para napi ini lari ketempat keluarganya masing-masing, yang tentunya tersembunyi dan sangat susah diketahui oleh aparat maupun masyarakat.


Kaburnya empat tahanan yang salah sataunya adalah pembunuh empat orang dalam satu keluarga itu, membuat sejumlah masyarakat Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) resah. Mereka takut terpidana itu melakukan hal yang sama terhadap sanak keluarga.


Narapidana pembunuhan itu adalah Yuli Nuryadi bin Parlan, warga Desa Bandar Agung, Kecamatan Parenggean, Kotim. Dia merupakan terpidana pembunuhan sadis terhadap satu keluarga di Desa Karang Tunggal, Kecamatan Parenggean, pada Selasa (14/7/2015), yang menewaskan Efendi (25), Yuyun (20) yang merupakan istri Efendi, Aditya (2) anak suami istri tersebut, dan Ruminah (62) ibu dari Efendi.


“Saya sangat takut, karena dari empat tahanan itu, salah satunya adalah pembunuh sadis. Sehingga bisa saja kalau sudah kepepet dia nekat melukai warga, atau bahkan membunuhnya,” ujar Selvia Nur Aini, warga yang tinggal di Jl Kembali, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Senin (4/4/2016).


Keempat napi yang kabur itu terlibat kasus sangat berat, yakni dua orang kasus pembunuhan yakni Yuli Nurhadi dan Rasmono, serta dua orang pemerkosa di Kabupaten Seruyan yakni Anang dan Agus Bambang.


Selvia juga mengaku khawatir dengan dua narapidana pemerkosaan yang kabur, karena dia sering keluar malam sendirian untuk mengikuti perkuliahan. Ia hanya berharap agar aparat kepolisian dapat segera meringkus keempat tahanan tersebut.


Sekedar diketahui, keempat napi tersbeut kabur pada Minggu (3/4/2016) sekitar pukul 02.00 WIB dini hari, dengan cara menjebol teralis kamar, dan langsung naik atap. Kemudian memanjat menara pantau dan langsung melompat keluar tembok setinggi enam meter. (M HAMIM/m)