SEORANG anak perempuan ber­umur 14 tahun yang masih duduk di kelas 3 SMPN 25 Banjarmasin merekayasa ka­sus penculikan terhadap di­rinya dengan meminta te­busan uang kepada orangtua­nya.


“Saya kabur dari rumah ha­bis isya, Minggu (3/4) malam,” ucap Fatmawati, 14, warga Teluk Tiram II Banjarmasin Ba­rat, Senin (4/4/2016).


Ia kabur dari rumah kare­na sering dianiaya ayah dan selalu dikekang dalam ru­mah serta susah mau kema­na-mana. Seusai kabur, ia berjalan di Jalan Dahlia hingga ke Jalan Kebun Sayur lalu ada mobil Avanza distop lalu ikut menumpang.


Tiba di Jalan Nagasari, Banjarmasin Tengah, Fatmawati minta diturunkan, lalu sopir mobil menurunkannya. Seusai turun di Jalan Nagasari, ia berjalan dengan kondisi le­mas dan menemukan obat merah merk betadin.


Ia pun berpikir seolah-olah diculik dengan menumpah­ka­n obat merah itu ke daerah­ wajahnya. Ia sempat meng­hubungi temannya untuk mem­buat broadcast di BBM dengan tulisan kalau ia dicu­lik­ dan meminta uang tebus­an Rp50 juta.


Setelah itu ia kembali le­mas­ dan ditemukan oleh petugas pemadam yang meli­hat Fatmawati dalam keada­an lemas dan berdarah di wa­jahnya.


Lalu ia dilarikan ke Rumah Sa­kit Suaka Insan.


“Semua kejadian itu reka­yasa dari Fatmawati dan keja­dian penculikan itu semua tidak benar dan bohong,” ucap Kasat Reskrim Polresta Banjarmasin Kompol Wildan Alberd melalui Kanit Jatanras Ipda Arya.


Untuk cairan warna merah di wajahnya dari hasil peme­rik­saan tim medis itu bukan darah, tapi obat merah yang sengaja ditumpahkannya ke wajahnya dan tidak ada tanda luka atau bekas pengani­ayaan.


Anak itu sudah diamankan polisi untuk dimintai ketera­ngan seputar rekayasa kasus penculikan itu.


“Anak itu hanya kami minta­ keterangan saja, setelah itu dibolehkan pulang dengan dijemput orangtuanya,” tutur­nya. (Ant/B-6)