SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Kepala Sekolah SMAN 4 Sampit Ananto Wibisono menjelaskan soal 3 tahun penerimaan peserta didik baru (PPDB) bergelombang karena sepi peminat. Namun dua tahun terakhir sudah normal.

"Sebenarnya yang saya tuangkan itu pengalaman 3 tahun yang lalu, kalau 2 tahun terakhir memang saya anggap tidak kurang. Namun sudah membaik," kata Ananto Wibisono, Selasa, 25 Juli 2023.

Hal itu ia utarakan melengkapi pernyataan yang pernah dituangkan saat RDP bersama Komisi III DPRD Kotawaringin Timur, Selasa, 18 Juli 2023, sebagaimana judul berita: PPDB SMAN 4 Sampit Dilaksanakan Bertahap Akibat Sepi Peminat yang terbit pada 19 Juli.

PPDB yang sempat dituangkan dengan bergelombang atau bertahap tersebut ialah tahun ajaran 2019-2020, 2020-2021, dan 2021-2022. Sedangkan 2 tahun terakhir 2022-2023 dan 2023-2024 mulai membaik. 

"Ibaratnya kalau kurang satu itu wajar saja artinya yang 2 tahun terakhir ini sudah tidak bertahap lagi," ujarnya.

--page

Dia sempat memaparkan dalam RDP bahwa PPDB tahun ajaran 2023-2024 tersedia 4 rombongan belajar dengan total kuota 144 peserta didik dengan Jumlah pendaftar 150 calon peserta didik. Namun saat masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) hanya 143 peserta didik yang mengikuti sehingga ada satu kuota kosong di SMAN 4 Sampit.

"Jumlah 150 orang itu yang mengembalikan formulir, sementara yang mengambil formulir lebih dari itu," jelasnya. 

Sementara perihal kebutuhan bus sekolah yang sempat ia tuangkan ialah upaya menjamin rasa aman bagi orang tua dan siswa.

"Di daerah situ kalau saya sering lewat itu sering terjadi kecelakaan, tetapi kalau siswa kami tidak pernah. Hanya kami was-was saja," tandasnya. 

Dia berpendapat orang tua pasti akan merasa terbantu jika ada bus sekolah menuju SMA 4 sampit yang lokasinya di Jalan Jendral Sudirman Km 5,5. Hal itu menjamin rasa aman serta mengurangi biaya transportasi berangkat dan pulang sekolah.

--page

"Saya rasa itu (bus sekolah) banyak manfaatnya. Kemarin guru-guru bertanya apakah anak-anak masih mau naik bus? Saya menjawab, kita imbau kan lebih amannya begitu. Tentu kami sangat berharap (ada bus sekolah). Saya rasa bukan saya yang berharap, tapi mungkin orang tua juga berharap. Karena kalau saya pun pribadi sebagai orang tua kalau ada bus sekolah saya tidak akan bawakan motor anak saya paling saya mengantar ke Terminal titik jemput, nanti pulang saya jemput di titik turunnya kan jauh lebih aman terutama, kalau saya pribadi," kata Ananto Wibisono. 

Lanjutnya, dia juga mengkonfirmasi keberadaan siswa berkebutuhan khusus di sekolahnya. Tahun ajaran baru ini, SMAN 4 Sampit menerima seorang siswa berkebutuhan khusus dan sebelumnya sekolah tersebut juga telah meluluskan 1 siswa berkebutuhan khusus. 

Ananto Wibisono mengatakan, secara pemikiran dan komunikasi siswa tersebut normal. Namun tidak bisa berjalan. Selama di sekolah pun siswa itu digendong teman-temannya atau orang tuanya karena belum ada fasilitas kursi roda. Dia juga menjelaskan, sepertinya anak tersebut berasal dari keluarga kurang mampu.

"Dulu SMP-nya di SMP 8 Sampit. Saat bangku SMP dia diantar bapaknya, tetapi saya dengar bapaknya meninggal lalu ibunya yang mengantar. Tetapi teman-temannya banyak yang peduli. Bahkan saat MPLS kakak-kakak kelasnya menemaninya saat belum dijemput ibunya sementara siswa lain sudah pulang," ujar dia.

Dirinya sempat berbincang dengan wali murid lain agar siswa tersebut diminta bantuan kursi roda melalui dinas sosial. Ia mencoba jalan tersebut, namun jika pun tidak mendapatkan kursi roda melalui Dinas Sosial pihaknya akan berupaya memfasilitasi. (DEWI PATMALASARI/J)