BORNEONEWS, Sampit - Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Rimur (Kotim) mengalami deflasi 0,34%, atau terjadi penurunan indeks harga konsumen sebesar 123,84%. Sebelumnya pada Februari 2016 juga deflasi 0,44%.
Deflasi ini terjadi karena adanya penurunan harga pada tiga kelompok pengeluaran, yakni kelompok bahan makanan 1,18 %. Kelompok perumahan air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,30 %. Serta kelompok transport, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,02%.
“Sudah dua bulan terakhir Kota Sampit mengalami deflasi. Hal itu terjadi karena adanya penurunan harga terhadap beberapa kelompok pengeluaran,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik Sampit Herry, Selasa (5/4/2016).
Sementara untuk kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan harga tertinggi adalah pendidikan, rekreasi, dan olah raga yang mencapai 0,19%. Kelompok sandang 0,16%. Kelompok makanan jadi minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,14%, serta yang terakhir adalah kelompok kesehatan sebesar 0,11%.
“Untuk bulan April ini belum bisa kami prediksi apakah kembali deflasi atau inflasi. Karena harus melihat kenaikan atau penurunan harga pada kelompok-klompok pengeluaran,” ungkap Herry.
Untuk komuditas yang memiliki andil terhadap penurunan harga di Kota Sampit selama Maret 2016 ini di antaranya daging ayam ras, ikan selar atau tude, ketimun, beras, dan telur ayam ras. Sementara itu untuk komuditas yang mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan adalah bawang merah, tomat sayur, cabai rawit, bawang putih, dan ikan bandeng.
Sedangkan dari pantauan Borneonews di Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit, beberapa komuditas mengalami kenaikan. di antaranya adalah bawang dan telur ayam. Harga bawang merah yang sebelumnya Rp35 ribu per kg, kini naik menjadi Rp45 per kg. Sementara untuk bawang putih yang awalnya harga Rp30 ribu per kg, naik jadi Rp38 ribu per kg.
“Baru bebarapa hari saja bawang mengalami kenaikan. Hal itu terjadi karena pemasoknya bukan dari daerah ini, melainkan dari pulau jawa,” kata Fajri, seorang pedagang di pasar PPM Sampit.
Sementara untuk telur ayam ras juga mengalami kenaikan, namun hanya berkisar Rp100 per butir. “Untuk telur ayam ras yang awalnya Rp1.200, kini naik menjadi Rp1.300 per butir,” ujar Fajri. (M HAMIM/m)


