Selama 2015, total penanaman modal dalam negeri di Kalimantan Tengah (Kalteng) merosot sebesar 29,8%. Investasi modal asing juga turun 17,16%. Semua ini imbas dari pelemahan nilai tukar rupiah dan kondisi global yang kurang mendukung kegiatan investasi.
Hal itu diungkapkan Kepala Badan Penanaman Modal dan Perizinan (BPMP) Kalteng, Inkal Jaya, kepada Borneonews di Palangka Raya, Selasa (5/4/2016). “Kita sudah upayakan promosi baik di dalam maupun di luar negeri. Hasilnya cukup efektif, walaupun memang belum memuaskan,” katanya.
Kendati ada penurunan penanaman modal dalam negeri sebesar 28,8%, lanjut Inkal, jumlah perusahannya meningkat 6,3%. Sedangkan total investasi asing, di samping turun 17,16%, jumah perusahaannya juga turun 1,64%.
Inkal berharap, pergerakan investasi akan kembali normal pada tahun ini, seiring dikeluarkannya regulasi untuk mendorong tumbuh dan berkembangnya investasi oleh pemerintah. ‘’Terutama dengan adanya kebijakan pemerintah untuk memudahkan pengurusan perizinan melalui pelayanan terpadu satu pintu yang dilaksanakan oleh BPMP Kalteng,” tuturnya.
Ia menambahkan, Kalteng yang banyak memiliki sumber daya alam (SDA) seperti bahan tambang, hasil hutan, dan perkebunan memerlukan investasi yang besar untuk mengolahnya. “Agar dapat menjadi komunitas yang bernilai ekonomis, guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Potensi tambang
Sebelumnya, Penjabat Gubernur (Pj) Kalteng, Hadi Prabowi mengatakan, Bumi Tambun Bungai ini memiliki cadangan batubara sekitar sebesar 2,5 miliar ton, cadangan biji besi 370 juta ton, zirkon 207,86 juta ton, bauksit 8,6 juta ton, dan berbagai cadangan potensi pertambangan lainnya.
Namun, potensi tersebut belum dikelola optimal untuk kemakmuran rakyat. Kendalanya adalah minimnya infrastruktur, baik transportasi maupun energi listrik, serta fasilitas pengelolaan lainnya yang ada di daerah ini.
“Ke depan, optimalisasi potensi daerah melalui hilirisasi akan membuat peluang Kalteng untuk dapat menjadi salah satu kekuatan ekonomi di Kalimantan bahkan di Indonesia. Sehingga, hilirisasi harus menjadi syarat mutlak bagi pembangunan Provinsi Kalteng,” kata Hadi.
Dengan terciptanya hilirisasi, menurut dia, akan tercipta pertumbuhan ekonomi Kalteng yang kuat dan dapat menjadi penopang. Semuanya demi tercapainya kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
(TP/B-1)


