BORNEONEWS, Palangka Raya - Dosen Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Palangka Raya (UPR), Muhammad Saleh. Sejak mengembangkan alat pembuatan bioetanol berbahan baku singkong. Saat ini ia telah memiliki pabrik di tiga wilayah di Kalimantan Tengah (Kalteng).
"Sekarang sudah ada tujuh unit alat pengolahan bioetanol dari bahan baku singkong ini. Empat unit di Kabupaten Pulang Pisau, satu unit di Katingan, satu unit di Gunung Mas, dan satu unit lagi di Kota Palangka Raya ini," kata Muhammad Saleh kepada Borneo News, Selasa (5/4/2016).
Saleh yang diwawancarai saat melatih 21 orang peserta Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pembuatan Bioetanol dari Bahan Singkong sebagai Bahan Bakar Masa Depan dalam rangka Membangun Ekonomi Kerakyatan Kalteng ini mengatakan, pengolahan dan pemanfaatan bioetanol ini masih menghadapi sejumlah kendala. Seperti ketersediaan bahan baku singkong yang masih terbatas di Kalteng, serta perangkat kompor bioetanol untuk keperluan memasak.
Menurutnya, kapasitas produksi per unit alat pengolahan bioetanol dalam sekali olah mencapai 100 liter.Ini dihasilkan dari perbandingan bahan baku rata-rata enam kilogram singkong menghasilkan satu liter bioetanol. Dengan perbandingan itu, untuk sekali proses pengolahan saja diperlukan hingga 1,6 ton singkong. Alhasil, proses pengolahan baru berjalan apabila bahan baku dalam jumlah banyak sudah tersedia.
"Singkong yang ideal untuk diolah jadi bioetanol memiliki kandungan karbohidrat tinggi. Selama ini, karena bahan baku terbatas, kita menggunakan singkong yang kualitasnya sembarang. Perlu dorongan pemerintah agar petani bersemangat menanam singkong ini, terutama dalam hal kesiapan menampung hasil produksi mereka apabila dibudidayakan dalam skala besar, khususnya untuk pembuatan bioetanol," tuturnya.
Lebih lanjut ia mengatakan, di sisi pemanfaatan, sejauh ini bioetanol yang pihaknya produksi masih terbatas untuk keperluan memasak. Hal ini pun terkendala dengan relatif rendahnya kualitas ketahanan kompor yang diproduksi di Surabaya. Padahal memasak menggunakan bahan bakar bioetanol jauh lebih hemat dibanding menggunakan minyak tanah atau elpiji. Selain itu, memasak dengan bahan bakar bioetanol juga minim risiko, karena tidak akan meledak.
Kegiatan diklat itu diikuti para peserta dari Kabupaten Pulang Pisau, Katingan, dan Gunung Mas. Mereka merupakan perwakilan dari Dinas Pertambangan dan Energi, Dinas Pertanian, dan camat dari masing-masing daerah.
Diklat yang digelar 3-6 April 2016 ini dibuka oleh Dekan Faperta UPR, Cakra Birawa, dengan pemateri antara lain, Kepala Bidang Listrik dan Pemanfaatan Energi Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalteng Tomas Sembiring, Kepala Seksi Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kalimantan Tengah Etty Faridawati, unsur akademisi Faperta Unpar Moch Anwar, Muliansyah, Maria Haryulin Astuti, dan Muhammad Saleh.
Kegiatan ini bertujuan membekali para peserta dari berbagai daerah pengetahuan tentang pengolahan dan pemanfaatan bioetanol, agar bisa diterapkan di tempat asalnya masing-masing. Produksi dan pemanfaatan bioetanol ini nantinya diharapkan mampu mengatasi krisis energi akibat menipisnya sumber daya alam penghasil energi, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam.
Bioetanol merupakan senyawa hidrokarbon yang juga dikenal sebagai etil alkohol. Cairan ini dibuat dari sari pati tumbuhan yang mengandung karbohidrat (pati) seperti ubi kayu, ubi jalar, jagung, sorgum,beras, ganyong, dan sagu. Selain itu, bioetanol juga dapat dibuat dari buah-buahan.Bioetanol dapat digunakan sebagai bahan bakar memasak sebagai pengganti minyak tanah, bahan baku industri turunan alkohol, bahan dasar industri farmasi, kosmetika, dan kini sebagai campuran bahan bakar untuk kendaraan bermotor.
Selain itu, bioetanol juga sedang dikembangkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik. (TESTI PRISCILLA/m)


