BORNEONEWS, Sampit - Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sejak awal April 2015 kembali diturunkan pemerintah pusat. Namun tidak berdampak pada harga kebutuhan pokok di pasaran Kabupaten Kotim. Harga kebutuhan masih bertahan tinggi. Hal ini pun menjadi perhatian Anggota Komisi II DPRD setempat Ida Laila.
“Seingat saya sudah dua kali harga BBM diturunkan pemerintah pusat, tetapi harga bahan pokok masih tetap mahal,” kata dia, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (6/4/2016).
Sehingga politisi PPP itu menilai, saat ini sudah tidak ada dampak signifikan penurunan harga BBM terhadap harga kebutuhan pokok.
“Saat harga BBM naik harga kebutuhan pokok juga otomatis ikut merangkak. Tetapi begitu harga BBM turun, tidak ada pengaruhnya,” cetus dia.
Ida pun meminta dinas perindustrian perdagangan dan pengelolaan pasar (Disperindagsar) setempat melakukan operasi pasar apabila harga di pasaran kian tak terkontrol.
“Sebagai pihak pemerintah, harusnya mampu mengendalikan harga pasar agar tidak merugikan masyarakat," ucapnya.
Sementara itu, Yusuf, salah seorang pedagang sembako di Pasar Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit, Kotim, menuturkan penurunan BBM tidak menjadi jaminan harga-harga sembako bakal turun. Karena banyak faktor yang memngaruhi penaikan harga seperti kendala distribusi, transportasi, serta kemungkinan gagal panen di daerah pemasok.
“Apalagi kan BBM seperti premium turun hanya Rp500 per liter, jadi pengaruhnya kecil untuk harga sembako turun,” kata dia.
Yanti, pedagang sayur mayur di pasar yang sama mengatakan untuk harga sayuran, penurunannya cenderung dipengaruhi panen raya dan pasokan barang yang sebagian besar berasal dari luar daerah. Sehingga, naik tidaknya BBM dinilai tidak memberi dampak signifikan pada harga sayur mayur.
“Jadi penurunan BBM tidak ada pengaruhnya. Harga sayuran sekarang tinggi karena di Pulau Jawa terancam gagal panen akibat banjir. Ini yang mempengaruhi pasokan barang,” jelas dia.
Beberapa harga kebutuhan pokok, terutama bumbu dapur mengalami penaikan. Seperti bawang merah yang sebelumnya Rp35 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp45 per kg. Sedangkan bawang putih yang awalnya harga Rp30 ribu per kg, naik jadi Rp38 ribu per kg. (RIFQI/m)


