TIDAK stabilnya pasokan listrik dari PLN, Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tingkat SMA/SMK/MA di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) digelar menggunakan generator set (genset).


Bupati Kobar Bambang Purwanto menyebut, bisingnya suara yang keluar dari mesin genset berdampak pada sulitnya pelajar untuk berkonsentrasi mengerjakan setiap soal ujian nasional (UN) dari Kemendikbud menggunakan aplikasi Computer Based Test (CBT).”Sudah pasti berpengaruh, kalau siswa susah konsentrasi bagaimana bisa mengerjakan soal dengan baik,” sebut Bambang saat memantau UNBK di SMAN 1 Pangkalan Bun.


Dampaknya, lanjut Bupati, kurang maksimalnya hasil ujian nasional dan pasti akan berpengaruh pada kelulusan pelajar. “Meski UN bukan satu-satunya penentu kelulusan, tetapi kalau nilai UN jelek, sekolah pasti akan kesulitan meluluskan,” ujar Bupati.


Meski demikian, orang nomor satu di Kobar itu menyatakan jika persiapan menghadapi ujian nasional masih menjadi penentu paling dominan. “Terpenting, persiapannya matang. Itu faktor terbesar yang mempengaruhi tingkat kelulusan,” cetus Bambang.


Suara bising


Dua sekolah yang menggelar UNBK yakni SMAN 1 Pangkalan Bun dan SMKN 1 Pangkalan Bun. Dua sekolah ini sudah menyediakan masing-masing satu genset untuk memasok satu ruang ujian dengan 36 komputer siswa dan satu komputer sebagai server.


 “Sekolah kami sudah menyiapkan dua genset dan satu lagi dari bantuan pihak PLN,” ungkap Kepala Sekolah SMKN 1 Pangkalan Bun, di ruang kerjanya, Fathurraji.


Persoalan lain yang timbul adalah suara bising dari tiap genset. Meski berada jauh dari ruang ujian, tetap saja masih mengganggu konsentrasi sejumlah siswa dalam mengerjakan ujian karena tiga genset untuk tiga ruang ujian menyala secara bersamaan.


Sementara, panitia UNBK SMKN 1 Pangkalan Bun, Novita Retno mengakui bisingnya suara yang berasal dari tiga genset tersebut.

“Seperti mas tau sendiri, ya beginilah kondisinya. Kalau ngobrol saja kita terganggu, bagaimana dengan mereka yang tengah mengerjakan ujian.” (CR-1/B-7)