PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS Pangkalan Bun - Ada 2 faktor yang membuat musik kemarau tahun 2023 ini menjadi lebih kering dibandingkan 3 tahun sebelumnya, yaitu faktor El- Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD).

Untuk di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) dan sekitarnya diprediksi oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bakal masuk pada bulan Augustus dan puncaknya terjadi pada September 2023.

Kepala BMKG Kelas III Iskadar Pangkalan Bun Aqil Ihsan, Rabu, 9 Augustus 2023 menjelaskan fenomena El-Nno dan IOD yang membuat musim kemarau tahun ini menjadi lebih kering.

“El-Nino merupakan fenomena pemanasan suhu muka laut diatas kondisi normal yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur. Pemanasan suhu muka laut ini mengakibatkan bergesernya potensi pertumbuhan awan dari wilayah Indonesia ke wilayah Samudera Pasifik bagian tengah dan timur,” jelasnya.

Fenomena El-Nino ini memiliki periode ulang antara 4 hinca 7 tahun. “Berdasarkan pengalaman yang terjadi pada beberapa tahun lalu saat fenomena El-Nino terjadi, fenomena cuaca ini menyebabkan kekeringan di Indonesia dan dampak lainya seperti bencana kebakaran hutan dan lahan. Sehingga perlu dilakukan diantisipasi agar hal tersebut tidak sampai terjadi lagi,” jelasnya.

Kemudian fenomena IOD yang juga turut mempengaruhi kondisi kemarau yang kering tahun ini merupakan fenomena cuaca yang terjadi di Samudera Hndia.

“IOD adalah fenomena penyimpangan suhu muka laut di Samudera Hindia. Penyimpangan ini dapat menyebabkan berubahnya pergerakan atmosfer atau pergerakan masa udara,” jelasnya.

Aqil Ihsan menjelaskan pada kondisi IOD positif suhu muka laut Samudera Hindia bagian barat menghangat.

“Sedangkan suhu muka laut di Samudera Hindia bagian timur mendingin. Kondisi IOD positif menyebabkan berkurangnya curah hujan di Indonesia,” jelasnya. (WAHYU KRIDA/R)