PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Pedagang buah di Jalan Yos Sudarso Palangka Raya, tepatnya di kawasan kuliner Tunggal Sangomang harus membayar biaya sewa lapak sebesar Rp.100 per hari.

Lapak berupa tenda itu disediakan pemerintah melalui kelurahan Palangka dan dikelola oleh LKK Kelurahan Palangka.

Dengan besaran biaya yang selama ini ditanggung, pedagang merasa kesulitan memperoleh keuntungan, apalagi musim buah hampir berakhir.

Atas dasar itu pedagang kembali mengundang pengurus LKK termasuk Lurah Palangka untuk membicarakan ulang soal biaya sewa lapak pada periode musim buah selanjutnya, Kamis, 10 Agustus 2023.

"Untuk bulan ini kami tidak masalah sesuai dengan kesepakatan awal bahwa bayar Rp.100 ribu. Namun kami pesan dan berharap agar musim buah selanjutnya bisa diturunkan biaya sewa, nggak usah pakai tenda lagi, bikin terpal saja," kata pedagang yang dituakan pada pertemuan tersebut.

--page

Pihak pedagang mengungkapkan, kesepakatan awal biaya sewa Rp.100 ribu disepakati karena berjualan buah durian yang harganya tinggi, sehingga Rp.100 sebagai retribusi tidak menjadi masalah.

Namun belakangan mereka merasa kurang untung lantaran buah yang dijual sudah berganti seperti buah langsat dan buah hutan lainnya yang harga tergolong lebih murah.

Terkait aspirasi pedagang ini, Lurah Palangka, Dawid menyambut baik dan akan tetap memperjuangkan keberlanjutan tempat berjualan bagi pedagang buah lokal ini.

"Sesuai kesimpulan pertemuan tadi, tetap sampai akhir bulan ini pakai kesepakatan yang dulu, tapi nanti akan dikurangi pada musim buah selanjutnya. Karena perjanjian awal hanya berlaku dua bulan saja," tutur Dawid.

Ke depannya Kelurahan Palangka juga berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan hingga Satpol PP untuk penataan tempat yang lebih rapi dengan biaya sewa lebih murah.

--page

Adapun rincian biaya atas penarikan selama ini yakni untuk bayar listrik Rp. 2juta sebulan yang dibayarkan kepada Menteng Asmin selaku penyalur listrik.

Lalu ada biaya kemanan sebesar Rp.1,8 juta, Spanduk Rp280 ribu, biaya kebersihan Rp.4 juta dan anggaran operasional atau dana taktis sebesar Rp.4 juta.

Keluhan soal biaya sewa ini pertama kali diungkapkan Epeng. Dia berjualan bersama istrinya, mereka merasa biaya Rp100 ribu per hari sangat memberatkan karena mencari untung saja sulit selama berjualan di lokasi tersebut.

"Mau jualan tempat lain misalnya di pinggir jalan kan tidak boleh, nah kami sebenarnya senang ada tempat khusus yang disediakan, namun jangan terlalu mahal, berat kita jualan kalau sewa lapak saja sudah Rp3 juta sebulan. Jauh sekali bedanya dengan mereka di kontainer yang hanya Rp700 ribu sebulan," ungkapnya. (HENDRI/H)