BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pasca penarikan Kapal Motor (KM) Egon dari Pelabuhan Panglima Utar Kumai rute Semarang, Jawa Tengah dan sebaliknya (4/6/2016, tidak hanya membuat kecewa masyarakat Kobar. Pergesaran KM Egon oleh PT Pelni pusat ternyata bakal mempengaruhi harga sejumlah kebutuhan pokok di Bumi Marunting Batu Aji ini.


Diketahui, KM Egon saat ini sudah dialihkan untuk melayani penyeberangan dari Surabaya, Jawa Timur ke Makasar dan sebaliknya. 


"Jelas sedikitnya pasca penarikan Egon ini akan mempengaruhi harga kebutuhan sandang dan pangan di pasar, karena selama Egon berooperasi, distribusi sandang dan pangan banyak yang menggunakan KM Egon dari Jawa Tengah," ungkap Kepala Bidang Usaha Perdagangan Disperindag Kobar, Eko Lusino Kamis (7/6/2016).


Meski saat ini belum dirasakan dampaknya, tapi dipastikan distribusi berbagai barang dari pulau Jawa akan tersendat jika jumlah kapal tidak mencukupi. Terlebih KM Egon menjadi andalan distribusi ke sejumlah daerah di Kabuaten Kobar, Lamandau dan sekitarnya. 


"Kami dari pemerintah daerah belum ada regulasi untuk menghadapi imbas kenaikan harga akibat ditariknya KM Egon ini, karena saat ini belum terasa dampaknya. Kan penarikannya baru terjadi beberapa hari saja," katanya.


Sementara itu, warga Kabupaten Lamandau Agus menyangkan KM Egon ditarik dan dioperasikan di wilayah perairan lain. Ia mengaku hampir dua bulan sekali menyeberangkan Truk Besar (TB) bermuatan bahan pokok menggunakan KM Egon dari Semarang. 


Kini ia bingung, sebab PT Pelni Cabang Pangkalan Bun dan PT Pelni Cabang Semarang tidak melayani lagi penyeberangan penyeberangan kendaraan.


"Naik Egon itu kan cepat, dari Semarang ke Kumai hanya 18-20 jam. Sudah menjadi langganan naik Egon. Sekarang nggak ada, terpaksa ikut kapal Dharma meskipun jarak tempuhnya sampai 30 jam," katanya.


Saryono, pengusaha bahan pokok asal Pangkalan Bun, juga mengaku kecewa. Sebab setelah ditariknya KM Egon, ia memperkirakan harga kebutuhan yang ia ambil dari Pulau Jawa akan terlambat jika ketersediaan kapal tidak ada. 


“Dulu juga kan terbatas, kalau penuh kan harus nunggu kapal lain atau naik kapal kargo yang harganya lebih mahal. Terpaksa biaya ooperasional tinggi dan mempengaruhi juga terhapar harga jual barang yang saya bawa," akunya.


Bupati Kobar saat diminta tanggapan terkait dampak penarikan KM Egon mengaku akan berkoordinasi dengan PT Pelni Pangkalan Bun. Ia akan mempertanyakan alasan Pelni pusat mengalihkan jalur KM Egon.


"Saya belum terima alasan penarikannya apa, memang masyarakat ini kan taunya nyebrang pakai Egon, sudah biasa lah mereka pakai Egon," ujar Bupati.


Terkait dengan kebijakan apa yang akan diambil jika harga kebutuhan pokok naik akibat tersendatnya pendistribusian, Bambang tak berkomentar banyak. "Nanti saya tanyakan dulu ke Pelni," timpal dia. (CECEP HERDI/m)