BORNEONEWS, Sampit - Sebanyak 18 orang yang terdiri dari gelandangan, pengemis, dan pekerja seks komersial, diringkus jajaran Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Rabu (6/4/2016) malam. 


Dalam razia yang juga melibatkan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) tersebut sempat diwarnaiperlawanan oleh seorang waria yang mangkal di sekitar Taman Kota Sampit. Waria itu menolak untuk diangkut ke dalam mobil. 


Meskipun berusaha melawan, namun empat orang petugas Satpol PP memaksanya untuk ikut bergabung ke dalam mobil yang sudah ditumpangi para PSK yang berjaja di sekitar daerah itu. 


"Memang sempat ada perlawanan dari waria, namun petugas Satpol PP berhasil mebawanya," ujar Kepala Dinsosnakertrans Bima Eka Wardhana, Rabu (6/4/2016).   


Sementara itu dari 18 orang yang terjaring, terdiri dari empat orang pengamen, empat anak punk, empat pengemis, dan ada enam orang yang diduga PSK. Mereka tertangkap di dua tempat keramaian, yakni Taman Kota Sampit, dan juga Ikon Kota Patung Jelawat. 


"Untuk para terduga PSK tersebut, sebagian dari mereka merupakan orang lama yang sebelumnya juga pernah terjaring," lanjut Bima. 


Setelah diamankan, para gelandangan dan PSK langsung dibawa ke kantor Satpol PP. Mereka mendapat pembinaan dan juga pemeriksaan lebih lanjut. 


Seperti halnya pengemis, mereka akan diinterogasi lebih mendalam guna mencari tahu apakah keberadan mereka sudah teroganisir atau tidak. Hal ini dilakukan agar pengemis yang ada di daerah ini tidak mengulang perbuatannya lagi. Dan masyarakat tidak lagi merasa terganggu.

 

Razia ini dilakukan karena atas dasar laporan dari masyarakat yang merasa terganggu dengan keberadaan mereka. Sehingga razia ini akan terus dilakukan hingga memasuki bulan suci Ramadhan. Karena pada waktu tersebut biasanya banyak pengemis yang datang dari luar daerah, untuk mengadu nasib ke daerah ini. 


"Saya minta pada masyarakat agar tidak memberikan uang saat melihat pengemis, karena hal itu akan membuat mereka manja dan tidak akan meninggalkan kebiasannya itu," pungkas Bima. (M HAMIM/m)