BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Walaupun ajang Porprov XII 2023 yang digelar di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) sudah usai, namun beberapa pihak yaitu pengamat, masyarakat serta Dinas Pemuda dan Olahraga, KONI, maupun Pengurus Cabang Olahraga sepakbola Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kotawaringin Barat (Kobar) masih mempertanyakan, siapa yang berhak menerima kategori medali yaitu emas, perak dan perunggu pada cabor sepak bola.
Karena, pasca berakhirnya Porprov tanggal 5 Agustus 2023 hingga Senin, 14 Agustus 2023 medali tersebut tidak kunjung diserahkan, diduga panitia pelaksana maupun panitia besar masih bingung menentukan penerima medalinya.
Head Coach Tim Sepak Bola Kabupaten Kobar, Yusro Arodi, kepada www.borneonews.co.id mengatakan, seharusnya pengalungan medali seharusnya dilakukan saat pertandingan selesai dilaksanakan di partai final.
"Lazimnya pengalungan medali cabor sepak bola yaitu upacara penghormatan pemenang (UPP) dilakukan usai partai final. Namun proses UPP tidak dilakukan selama Porprov XII berlangsung," jelasnya.
Bahkan panitia lokal menyerahkan semuanya pada panitia besar. "Proses pengalungan medalinya dilakukan nanti saat tim investigasi dan komisi disiplin (Komdis) sudah menemukan bukti kuat atas dugaan kedua tim yang saling memprotes," jelasnya.
Yusro mengatakan, kedua tim yang saling memprotes yakni Sukamara dan Palangka Raya. "Bahkan berdasarkan keputusan panitia Sukamara kena diskualifikasi saat mau bertanding di partai final dan Sukamara balik memprotes Palangka Raya," jelasnya.
Menurut Yusro Arodi, beberapa hari yang lalu dirinya sudah menerima surat dari Kadispora tentang putusan dari panitia besar.
"Pada surat tersebut disebutkan tidak ditemukan bahwa pemain Palangka Raya tidak sah. Dalam isi surat juga disebutkan adanya Juara Bersama. Kami juga mempertanyakan yang juara bersama ini siapa karena tidak menyebutkan siapa-siapa saja yang jadi juara bersama," jelasnya.
Yusro menegaskan pihaknya dari Kabupaten Kobar hanya butuh kejelasan saja terkait penerima medali cabor sepak bola.
"Siapa yang dapat medali emas, perak, dan perunggu, namun hingga saat ini tidak ada kejelasan. Tentunya dalam hal ini kami sangat dirugikan. Karena sejak awal Kobar berkomitmen dengan menggunakan pemain lokal, sementara ada beberapa daerah yang berani menggunakan pemain dari luar daerah," jelasnya.
--page
Yusro juga menjelaskan pengurus PSSI Kobar maupun Kadispora terus berupaya mempertanyakan dan memperjuangkan apa yang selama ini ditorehkan oleh pemain.
"Intinya kami hanya minta kepastian siapa saja penerima medali atau yang menjadi juara dalam cabor sepak bola dari panitia besar," jelasnya. (WAHYU KRIDA/R)









