PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kependudukan dan Keluarga Berencana (P3APPKB) Kalteng mengingatkan terget prevalensi stunting Kalteng 15,38 persen pada 2024.

Target ini untuk mendukung target nasional penurunan prevalensi stunting pada anak di bawah usia dua tahun menjadi 14 persen tahun 2024.

Kepala P3APPKB Kalteng, Linae Victoria Aden menyampaikan, masa 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan fase penting yang berpengaruh pada perkembangan anak secara keseluruhan. Masa ini dihitung sejak anak berada dalam kandungan hingga berusia dua tahun.

Penyebab dasar terjadinya masalah kurang gizi adalah masalah ekonomi yang ditandai dengan rendahnya daya beli masyarakat.

“Sehingga menyebabkan rendahnya ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga yang dapat menyebabkan rendahnya asupan zat gizi,” tuturnya, saat memberikan sosialisasi 1000 HPK di Palangka Raya, Senin, 14 Agustus 2023.

--page

Ia menilai, selain rendah asupan zat gizi ada beberapa hal lain yang ikut menyebabkan stunting, seperti pola pengasuhan Balita yang kurang baik.

Kemudian, buruknya kondisi sanitasi lingkungan, dan kurang tersedianya sarana air bersih serta kurangnya akses terhadap pelayanan kesehatan, juga memberikan kontribusi terhadap terjadinya infeksi yang berulang yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya Stunting. (HERMAWAN DP/Y)