BORNEONEWS, Palangka Raya - Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kependudukan dan Keluarga Berencana (P3APPKB) Kalteng mengingatkan perlunya pendekatan multisektor untuk mengatasi masalah gizi.
“Mengingat penyebab masalah gizi adalah multifaktor, maka upaya yang harus dilakukan dalam mengatasi masalah kurang gizi harus melalui pendekatan multisektor," kata Kepala P3APPKB Kalteng, Linae Victoria Aden, saat sosialisasi 1000 HPK di Palangka Raya, Senin, 14 Agustus 2023.
Ia menilai, sektor kesehatan perlu bergandengan bersama-sama dengan sektor lain di luar bidang kesehatan.
Mulai dari sektor ekonomi, pekerjaan umum, pertanian, ketahanan pangan, perikanan, pendidikan dan sektor terkait lainnya.
Linae juga menilai, permasalahan gizi jika dibiarkan akan berdampak pada rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia.
--page
Hal ini akan berdampak pada daya saing bangsa sehingga dalam rangka meningkatkan SDM Indonesia yang sehat, cerdas, dan produktif diperlukan status gizi yang optimal, dengan cara melakukan perbaikan gizi.
Untuk itu, lanjut dia, pemerintah bertanggung jawab dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan.
"Dengan sasaran masyarakat, khususnya remaja, ibu hamil, ibu menyusui, dan anak di bawah dua tahun,” ucapnya. (HERMAWAN DP/Y)









