BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Masih terjadi miskonsepsi pembelajaran di pendidikan anak usia dini (PAUD). Salah satunya, anak PAUD diajarkan calistung sebagai tuntutan kesiapan masuk ke sekolah dasar (SD), pada saat penerimaan siswa baru SD ada yang memasukkan poin kemampuan membaca dan menulis.
"Akibatnya, ada kecemasan anak-anak didik PAUD yang semestinya masih pada ranah belajar sambil bermain," kata Bunda PAUD Kotawaringin Barat, Hj Harli Saparia Budi Santosa, saat membuka acara Apresiasi Bunda PAUD tingkat kecamatan dan desa/kelurahan di Aula Kantor Bupati, Senin, 14 Agustus 2023 kemarin.
Semestinya, dalam penerimaan peserta didik baru SD tidak memasukkan poin membaca menulis dan berhitung (calistung), namun lebih kepada kesiapan mental anak dalam beradaptasi dengan teman sebaya, lingkungan sekitar, dan kematangan emosional.
Untuk itu, lanjutnya, perlu gencar disosialisasikan gerakan transisi PAUD ke SD. Sehingga pada masa transisi ini peserta didik tidak perlu banyak beradaptasi dalam pembelajaran di SD.
"Gerakan transisi ke PAUD sangat penting. Bunda PAUD juga sangat penting sebagai motor penggerak mewujudkan PAUD berkualitas. Sehingga pada hari ini diadakan Apresiasi Bunda PAUD tingkat kecamatan, Kelurahan dan desa," lanjut istri Pj Bupati Kobar tersebut.
--page
Apresiasi Bunda PAUD ini diikuti oleh 6 orang Bunda PAUD dari kecamatan dan 6 orang Bunda PAUD dari desa atau kelurahan.
"Apresiasi Bunda PAUD ini merupakan lomba dan penganugerahan yang akan berlanjut ke Apresiasi Bunda PAUD tingkat provinsi," papar Ketua Panitia Apresiasi Bunda PAUD tingkat kecamatan, desa atau kelurahan Kabupaten Kotawaringin Barat, Puji Ika Rahayu, Psikolog dalam laporannya.
Pada ajang ini, ada tiga juri yang akan menilai yaitu Bunda PAUD Kotawaringin Barat Hj Harli Saparia Budi Santoso, Perwakilan dari Pokja Provinsi Kalimantan Tengah Norjasanah dan Kabid GTK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kobar Rahmad Trisdijanto.
Rahmad Trisdijanto yang saat itu juga mewakili PJ Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kobar juga menyampaikan, pada transisi PAUD ke SD perlu dilakukan secara menyenangkan. Salah satunya dengan waktu masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) yang berbeda dari jenjang pendidikan lainnya.
"MPLS SD berlangsung selama dua Minggu, ke ih lama ketimbang jenjang lainnya," katanya.
--page
Hal ini juga sesua dengan Kebijakan merdeka belajar yang memberikan perhatian khusus pada masa transisi anak dari PAUD ke SD.
"Mari kita bersama-sama menyuarakan gerakan transisi PAUD ke SD yang memuat 3 s, yaitu Siap Anak, Siap orangtua dan Siap Lembaga," jelasnya.
Perwakilan Pokja PAUD Kalteng Norhasanah juga mengungkapkan masa PAUD sebenarnya sampai kelas 2 SD.
"Pada masa itu harus menerapkan pembelajaran yang menyenangkan, mengenal peserta didik dibangun hingga kelas 2 SD," katanya.
Saat penerimaan SD semestinya lebih ke kemampuan konsentrasi, kosakata, dan mentaati aturan. Konsepsi anak harus bisa calistung di kelas 1 SD sudah tidak tepat," tandasnya. (DANANG/J)









