PELAKSANAAN ujian na­sional (UN) SMA di Ko­ta Palangka Raya yang masih banyak se­kolah yang tidak manfaat­kan­ teknologi komputer jadi cibiran anggota dewan.


Ini lantaran hanya ada enam sekolah yang melaksa­na­kan ujian nasional ber­ba­sis komputer (UNBK) secara online.


Tahun di Kota Cantik Pala­ngka Raya ada 8 sekolah yang menggelar UNBK, termasuk se­kolah di bawah naungan Kementerian Agama, sedang­kan­ puluhan sekolah lainnya masih manual.


Akibat terlihat kalah bersai­ng inilah menjadi sindiran. Sa­lah satunya diungkapkan­ Ketua Komisi C DPRD Palang­ka Raya, Rusliansyah.


Menurut ketua komisi yang membidangi pendidikan ini, capaian sekolah dalam naungan dinas pendidikan seharus­nya bisa lebih baik dan mam­pu menye­­lenggarakan secara online karena didukung dana cukup besar.


Menurut politisi Golkar ini se­harusnya sekolah di tengah­ kota ini sudah adaptasi deng­an kemajuan teknologi.


Dia berharap tahun depan­ tidak lagi ujian berbasis ker­tas. “Tapi sudah online se­mua,” harapnya. Sementara itu Walikota Palangka Raya, Riban Satia saat ditanya kena­pa masih ada sekolah yang menggelar ujian secara manu­al, padahal era sudah mo­dern­ dan kemajuan teknologi sudah mudah diadaptasi? dia menyebut perlu waktu dan tidak mudah.


Riban juga menyatakan tidak perlu memasang target ha­rus UNBK beberapa tahun kedepan.


Alasannya kebijakan ke­men­terian yang tidak mengikat, juga kebijakan yang be­rubah-ubah seiring bergan­tinya kabinet.


Yang penting menurut dia tujuan pendidikan dan kualitasnya tersampaikan.


“Pusat sendiri tidak membe­rikan kepastian standar. Sel­alu memberikan opsi ke dae­rah dengan menyilahkan­ menggunakan online atau kertas. Kurikulum juga me­nunjukkan ketidakkonsisten­an, ada yang pakai 2006 ada yang 2013. Jadi yang penting kita lihat adalah kualitas il­munya dan upaya standar ni­lai UN minimal 5,5 tercapai,” katanya. (B-6)