BORNEONEWS, Jakarta - Pakar Kebijakan Publik Bambang Haryo menilai polusi udara di Jakarta dengan indeks kualitas udara (AQI) mencapai diatas 170, dinilai sangat parah sehingga udara di Ibu Kota Jakarta sangat tidak layak saat ini.
Menurutnya, sangat disayangkan banyak pihak yang berkomentar tidak berdasarkan kajian dan analisa yang benar dan akurat, bahkan cenderung menyalahkan polusi kendaraan bermotor baik pribadi maupun publik sebagai penyebab polusi udara. Sehingga muncul wacana kebijakan 4 in 1, juga uji emisi gas buang akan lebih diperketat, dan bahkan muncul wacana mendorong ekosistem kendaraan listrik.
Kebijakan tersebut dianggapnya sebuah kepanikan dan sporadis, bahkan muncul dari pimpinan daerah yang mewacanakan perizinan bangunan akan diperketat terutama high rise building.
Tidak hanya itu, muncul juga instruksi untuk masyarakat menggunakan sepeda sebagai transportasi sehari-hari di tengah udara yang tidak layak.
"Ada juga kebijakan yang muncul seperti pengguna kendaraan 2.400 cc harus menggunakan pertamax turbo. Padahal pengaruh oktan hanya penyumbang terkecil dari kegagalan emisi gas buang yang sebagian besar kegagalan akibat kondisi perawatan mesin dari kendaraan itu sendiri," kata Bambang Haryo melalui rilis resminya kepada media, Sabtu, 19 Agustus 2023.
--page
BHS yang juga lulusan ITS mengatakan, harusnya dapat dipahami pada rentan waktu Juni hingga Agustus, selalu muncul polusi udara yang sangat tinggi dan melebihi ambang batas di Wilayah pesisir utara Pulau Jawa, Jabotabek, Semarang dan bahkan Surabaya.
"Misalnya di Tahun 2015 terparah, 2019 dan 2023, semuanya mengalami kabut asap akibat kebakaran hutan yang ada di Indonesia khususnya Kalimantan, Sumatera beserta daerah lainnya yang membawa dampak kesehatan yang buruk bagi masyarakat di semua wilayah Indonesia," kata Bambang.
Harusnya, pihak berwenang mengamati bahwa pada Agustus 2023 ini musim kemarau terjadi di beberapa wilayah. Hal itu menyebabkan ratusan atau bahkan jutaan hektar hutan di Kalimantan, Sumatera bahkan di Jawa Barat yang mengalami kekeringan dan akhirnya terbakar.
Penyebabnya, bisa terjadi akibat gesekan ranting dan lain lain, dan kebakaran itu terlihat ada titik nyala api berskala kecil, menengah dan hebat. Ini semua bisa kita lihat di data BMKG, titik hotspot kebakaran saat ini sudah mencapai lebih dari 4.000 di Indonesia dan yang paling terparah adalah wilayah Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Wilayah Sumatera Selatan serta Lampung.
--page

Akibat kebakaran hutan dan lahan tersebut, membuat kabut asap terjadi di wilayah itu, bahkan sangat pekat jauh di atas wilayah Jabodebek. Bahkan ada yang sempat menganggu penerbangan pada saat pesawat akan mendarat dan terbang," terang Bambang
Menurut Bambang, akibat arah angin yang saat ini berhembus dari barat ke timur agak ke selatan, maka asap - asap dari Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera tersebut bisa saja memenuhi wilayah Jabotabek dan kota-kota pesisir utara Pulau Jawa.
"Harusnya kita bisa mengamati dan menganalisa walaupun saat hari libur pekerja, kantor, pabrik, sekolah dan angkutan truk pun istirahat di wilayah Jakarta, tetapi udara di Jakarta tetap tertutup kabut asap, kalau misalnya kebakaran hutan tersebut tidak segera ditanggulangi dengan baik," kata Bambang.
Ia beranggapan bahwa hal tersebut adalah tugas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), yang seharusnya dapat melakukan pencegahan kebakaran hutan.
Bisa dengan cara selalu membasahi hutan-hutan tropis pada saat musim kemarau panjang. Sehingga hutan - hutan tetap sehat dan hijau.
--page
"Seperti halnya di Malaysia, dimana saat ini tidak satupun hutan di negara itu terjadi karhutla, karena hutannya sangat sehat dan cukup air. Dan Hutan yang sehat mempunyai daun yang mengandung 80% air, sehingga hutan tersebut tidak bisa terbakar dan bahkan dibakar," papar anggota Bidang Pengembangan Usaha dan Inovasi DPN HKTI itu.
Dirinya juga berucap bahwa Kementerian LHK sudah mendapatkan anggaran cukup besar, yakni Rp 7,55 triliun dan pemerintah juga sudah melengkapi pesawat pemadam boeing 747 yang mampu membawa 24 ribu galon air, dimana mampu memadamkan dan sekaligus merawat lebih dari 100 ribu hektar hutan.
Selain itu, mereka juga masih memiliki 10 helikopter pemadam untuk pengeboman air (water bombing), dan bahkan juga dilengkapi penaburan garam untuk membuat hujan - hujan buatan.
Harusnya itu yang digerakkan untuk menyelesaikan permasalahan kebakaran hutan yang hampir selalu ada di musim kemarau panjang di bulan Juli-Agustus.
"Bila semua perawatan hutan untuk pencegahan kebakaran dilakukan oleh Kementerian LHK, maka akan mampu menyelesaikan permasalahan kebakaran hutan yang menjadi penyebab polusi udara yang ada di Jabotabek maupun wilayah Indonesia lainnya. Karena musim kemarau panjang masih terus berlanjut, maka sudah saatnya Kementerian LHK segera bergerak untuk melakukan perawatan sekaligus pemadaman hutan - hutan yang saat ini sedang terbakar dan sambil menunggu adanya musim hujan kembali," jelas founder BHS Peduli ini.
--page
"Jadi STOP mencari kambing hitam dari kendaraan bermotor baik privat maupun publik dan truk pengangkut logistik serta pabrik yang ada di Jakarta. Dan diharapkan segera lindungi warga di seluruh Indonesia dari asap kebakaran hutan," pungkas Bambang Haryo. (MUHAMMAD HAMIM)









