BORNEONEWS, Sampit - Warga di sekitar bantaran Sungai Pamuatan, khusus Kelurahan Sawahan Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Kelurahan Baamang Barat Kecamatan Baamang masih dihantui oleh bencana banjir. Sebab sungai Pamuatan yang merupakan jalur air sudah buntu.
“Setiap tahun rumah kami pasti banjir, soalnya kalau hujan deras air tidak lancar ke sungai karena Sungai Pamuatan sudah buntu,” kata Mat Hadi, seorang warga Kelurahan Sawahan, Minggu (10/4/2016).
Dari pantauan di lapangan, kondisi Sungai Pamuatan sudah penuh rerumputan serta sampah. Ketika hujan turun air tidak bisa jalan normal sehingga mengakibatkan terjadinya banjir yang merendam rumah-rumah warga di beberapa RT di dua kelurahan tersebut.
Ketika hujan turun, air yang dari arah Bundaran Burung Jalan Jenderal Sudirman semuanya mengarah ke Sungai Pamuatan. Kondisi sungai yang tidak pernah dirawat atau dikeruk pemerintah, jika hujan intensitas sedang saja maka akan langsung banjir.
“Air dari Bundaran Burung turunnya ke Sungai Pamuatan. Di sini jadi langganan banjir karena sungai pamuatan tidak berfungsi lagi,” ujar Mat Hadi.
Mat Hadi mengatakan, tidak adanya upaya pengerukan dari pemerintah daerah, maka warga sekitar berupaya menggaji buruh untuk membersihkan Sungai Pamuatan. Kondisi sungai yang diakui sudah buntu sepanjang sekitar satu kilometer.
“Setiap minggu kami bersihkan. Yang bersihkan inipun kami bayar tidak gratis. Soalnya kalau sudah banjir tidak hanya rumah warga yang terendam, kuburan Al Hidayah sebelah barat Kompi Antang juga terendam,” katanya.
Maesaroh, warga lainnya yang tinggal di bibir Sungai Pamuatan itu juga mengatakan, sejak 2004 sungai itu tidak pernah dikeruk pemerintah. Sehingga beberapa tahun belakangan ini rumah mereka banjir.
“Terakhir di keruk pada 2004, habis itu tidak pernah lagi dikeruk,” ujarnya.
Dengan kondisi sungai yang sudah buntu serta ditumbuhi semak belukar yang mengakibatkan air tidak bisa mengalir normal. Warga berharap pemerintah segera melakukan pengerukan sungai Pamuatan. (RAFIUDIN/m)


