BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kepala Desa (Kades) dituntut untuk lebih proaktif dan kreatif. Kucuran dana yang besar tidak akan berdampak signifikan bagi pertumbuhan ekonomi warga jika tak dikelola dengan tepat.


Kades Natai Raya Ian Arifin menyebutkan, untuk bersaing dengan daerah lain, desa wajib memiliki terobosan. "Jangan sampai desa lain menanam rambutan kita ikutan. Nanti kalau panen, pasar buah banjir rambutan. Harganya sudah pasti anjlok," sebut Ian, Minggu (10/4/2016).


Meski tetap harus menyesuaikan kondisi tanah di Desa Natai Raya, pihaknya mengaku terus berupaya membuka peluang pertanian dan perkebunan bagi masyarakat setempat. Setelah sukses dengan pertanian padi dan jagung, pihaknya kini tengah gencar mengembangkan budidaya gaharu dan buah kelengkeng.


"Dari sisi profit budidaya gaharu sangat menjajikan, begitupun pasar buah kelengkeng," ucapnya.


Di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) dan kabupaten sekitar belum banyak yang mengembangkan tanaman buah kelengkeng. Melihat peluang itu, ia mengajak warga setempat untuk mengembangkan tanaman buah kelengkeng.


"Untuk memperoleh bibit, penyuluhan sampai ke obat pertanian, kami sudah menjalin kerja sama dengan Distanak dan Dinas Perkebunan," papar Ian.


Saat ini, Ian sudah mulai meminta warga menebang tanaman non profit dan menggantinya dengan tanaman yang lebih produktif dan memiliki nilai profit tinggi.


"Sudah ada beberapa bibit dibagikan ke warga secara gratis. Kita tebang tanaman lama untuk diganti dengan tanaman yang lebih produktif," ujarnya.


Sementara seorang warga Natai Raya, Budi, mengaku sudah menanam sejumlah bibit yang dibagikan. Ia berharap profit yang dihasilkan memiliki nilai lebih dan dapat membantu perekonomian mereka.


"Kalau rambutan sudah tidak ada harganya. Panen yang lalu saja kami biarkan busuk di pohon, tidak ada yang berani beli," sebutnya.(CR-1)