TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang - Bartim Expo 2023 yang berlangsung hingga 28 Agustus 2023 juga menyediakan stan khusus usaha mikro, kecil dan menengah atau UMKM untuk memperkenalkan sekaligus menjual produk para pelaku usaha. Salah satunya adalah Bedak Dingin Dayak Cap Mawinei yang diproduksi oleh Hatriani (33), warga RT 04 Desa Turan Amis Kabupaten Barito Timur.

Bedak dingin atau biasa disebut pupur basah dalam masyarakat Dayak Maanyan itu dibuat dari perpaduan bahan tepung beras yang dibuat sendiri, madu hutan, daun pegagan dan ramuan khas Dayak Maanyan lainnya tanpa tambahan bahan pengawet maupun pewarna. Karena itu, produk yang semuanya menggunakan bahan baku lokal itu hanya bertahan 1 bulan dalam suhu ruangan dan tahan 1 tahun jika disimpan di kulkas.

"Bedak pupur basah merupakan perawatan wajah turun temurun orang Dayak Maanyan dari zaman dahulu," ungkap Hatriani saat diwawancarai di stan Komunitas Ibu-ibu Kreatif Dusun Tengah, Bartim Expo, Selasa, 23 Agustus 2023.

Cara penggunaannya, 2-4 butir bedak dingin dibuat menjadi pasta dengan sedikit air lalu dioleskan ke wajah secara merata, saat itu akan terasa sensasi dingin pada kulit wajah. Setelah mengering (sekitar 10-30 menit) dapat dibersihkan atau dibilas dengan air.

Pemakaian rutin Bedak Dingin Dayak Cap Mawinei dapat mencerahkan, melembabkan, menghilangkan flek, memperkecil pori-pori dan meremajakan kulit.

--page

"Bedak ini juga dapat menghilangkan kantong mata, sel kulit mati dan jerawat. bagus juga buat ibu nifas dan dan perawatan kulit bayi," jelas Hatriani.

Wanita yang sehari-hari bekerja sebagai staf pemberdayaan dan pemasaran Credit Union Ampah Kota ini menuturkan, usaha baru yang digelutinya itu dimulai sejak awal Juli 2023.

Meski baru memulai namun produk perawatan kulit bermerek Mawinei yang berarti cantik dan awet muda itu banyak diminati konsumen terutama kaum wanita. Hal tersebut bisa dilihat dari penjualannya yang mencapai 1.000 bungkus per Minggu dengan jangkauan penjualan di Barito Timur dan Kabupaten Barito Selatan.

Selain karena produknya disukai kaum perempuan, Hatriani dengan cepat berhasil menjual bedak produksi rumahan dalam jumlah banyak karena menerapkan strategi penjualan dengan pengembangan jaringan.

"Sebenarnya alasan saya membuat pupur basah ini untuk meneruskan atau melestarikan karya ibu dan nenek sebagai orang Dayak Maanyan yang biasa menggunakan pupur basah dengan resep yang sama untuk mempercantik diri dan melindungi kulit dari terik matahari ketika tanam dan panen padi," ujar Hatriani.

--page

Saat beraktivitas di ladang, umumnya wanita Dayak Maanyan menggunakan bedak dingin bukan hanya di wajah namun juga dilulurkan ke bagian tubuh lain yang mudah diterpa panas matahari

Sebagaimana umumnya pelaku UMKM, Hatriani juga tetap menghadapi berbagai tantangan dalam pengembangan usahanya seperti masalah, permodalan, pembagian waktu dengan pekerjaan kantoran di Credit Union, alat produksi hingga proses produksi dan pengiriman barang yang masih dilakukan sendiri bersama sang suami.

Wanita pemilik usaha bernama Dasmarau Bima Jaya yang juga memproduksi kopi dan wadi ikan patin ini masih memiliki impian agar produk bedak dinginnya semakin laris dan tersedia pada setiap warung atau kios di Barito Timur.

"Semoga ke depan ada perhatian dari pemerintah melalui dinas yang membidangi UMKM agar khususnya usaha yang berbasis kearifan lokal lebih diperhatikan dengan dukungan permodalan dan alat produksi," harapnya mengakhiri wawancara. (BOLE MALO/Y)