BORNEONEWS, Tamiang Layang - Status Dewa Ayu Putu Canderi (44) sebagai Aparatur Sipil Negara atau ASN yang bekerja di Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM Kabupaten Barito Timur dan membina komunitas pengrajin gula aren di Desa Putai memotivasinya untuk menghidupkan kembali usaha jamu yang pernah dirintis sejak tahun 2012 dengan menggunakan bahan baku gula aren.
"Jadi itu yang mendorong saya untuk minuman herbal dalam kemasan sebagai produk turunan gula aren selain juga untuk menambah penghasilan keluarga, saya mulai kembali Januari 2023," ungkap warga Gang Sameh-Sameh RT 11 Kelurahan Tamiang Layang yang akrab disapa Ayu ini, Selasa, 22 Agustus 2023.
"Membuat jamu adalah university of life (universitas kehidupan), jadi dengan menjadi pengrajin saya tidak hanya mengajari ibu-ibu menjadi kreatif tapi juga dapat merasakan setiap kendala, tantangan serta juga tips-tips bisnis dalam praktek," imbuh Ayu.
Jamu cair kemasan botol itu diproduksinya dalam 4 varian yaitu jamu kunyit asam sirih yang berkhasiat menjaga kesehatan daerah kewanitaan, mengatasi sakit karena haid, mengatasi bau badan dan menjaga tubuh tetap singset. Kemudian jamu pinang muda manjakani untuk menjaga kesehatan organ intim wanita, mencegah kista dan membuat tetap keset dan rapet.
Berikutnya jamu sehat pria pinang muda purwaceng untuk menjaga stamina pria dan menghangatkan badan serta jamu temulawak yang berkhasiat untuk terapi maag, kolesterol, asam urat dan penyakit metabolis lainnya.
Produk jamu yang dihasilkan Ayu dijual dengan merek Zenko. Merek ini berasal dari dua kata dalam bahasa Jepang yaitu Kangzen yang berarti kecantikan dan Kenko yang berarti kesehatan.
"Merek Zenko ini menjelaskan visi kami dalam membuat produk jamu untuk menjaga kecantikan dan kesehatan," kata Ayu.
Dia memastikan produk jamunya menggunakan bahan-bahan alami, yakni gula aren, kunyit, temulawak, manjakani, sirih, pinang, jahe serta rempah-rempah asli Indonesia lainnya.
"Gula aren dan sirih dari komunitas binaan saya di Desa Putai, kemudian pinang dari petani setempat, kunyit, temulawak dan jahe dari Kalsel sedangkan manjakani dan purwaceng masih dari Jawa," terang Ayu.
Dia menjual jamu cair secara online maupun offline seharga Rp20 ribu per botol dengan jangkauan penjualan di Kota Tamiang Layang, Pasar Panas dan Kota Ampah.
Jamu temulawak dan pinang muda purwaceng tahan 1 minggu disimpan dalam lemari pendingin, sedangkan jamu kunyit asam sirih, pinang muda manjakani tahan 10 hari dalam lemari pendingin.
"Tantangan utama yang saya hadapi adalah waktu karena saya juga bekerja sebagai ASN. Untuk kendala lainnya adalah jaringan pemasaran dan izin BPOM. Untuk izin halal dan NIB saya dibantu dari teman-teman dinas perizinan," ungkap Ayu terkait kendala pengembangan usaha.
--page
Meski demikian ASN yang ditugaskan di bidang koperasi ini tetap ingin membesarkan usaha rumahannya dengan diversifikasi produk sehingga tidak hanya produk jamu dalam kemasan botol tapi juga dalam bentuk teh celup dan aneka rasa.
"Saya ingin menjadikan jamu naik kelas seperti halnya kopi dan teh yang saat ini menjadi minuman yang digemari hampir semua kalangan, secara tidak langsung kita juga menjaga warisan nenek moyang yaitu minuman herbal tradisional di mana jamu sebenarnya berasal dari bahasa Jawa Kuno yaitu jampi yang berarti berdoa dan usodo yang berarti sehat," jelas Ayu.
"Jadi dengan membuat jamu kita juga membudayakan hidup sehat yang merupakan salah satu konsep pengobatan holistik. Menjaga pola makan dan minum, menjaga pola pikir dan menjaga pola hidup," tandasnya. (BOLE MALO/R)









