PATIH Lalantur segera menebang salah satu dahan pohon yang mengeluarkan aroma seperi daging, kemudian memotong-motongnya, dan membakarnya di api unggun.
Asap yang keluar dari api unggun tampak menebal, dan kembali menebar aroma sangat sedap, membangkitkan rasa lapar. Namun yang aneh, potongan kayu itu tidak berubah menjadi arang, melainkan berbentuk keratan-keratan daging bakar.
Laluntur tidak sabar untuk segera mencicipinya. Ternyata potongan kayu itu begitu empuk dan lezat, melebihi kenikmatan dari daging bakar biasa. Sang adik Patih Sasanggan pun segera melakukan hal yang sama.
Akhirnya, keduanya menebang pohon yang rindang itu dan dipotong-potong kecil untuk dijadikan santapan, sisanya sebagai bekal perjalanan mereka.
Belum lagi habis santapan di hadapan mereka, sang kakak sangat terperanjat menyaksikan perubahan yang terjadi pada tubuh adiknya.
Tubuh Patih Sasanggan mulai ditumbuhi sisik-sisik tebal. Laluntur tertawa terbahak-bahak dan menganggap perubahan tubuh adiknya sebagai sesuatu yang lucu, tanpa menyadari bahwa sesungguhnya keadaannya pun tidak berbeda dengan sang adik.
Sasanggan tidak menyadari bahwa yang ditertawakan adalah dirinya. Ia pun tidak kalah terkejutnya menyaksikan tubuh Laluntur telah ditumbuhi sisik tebal.
Konon, kedua kakak beradik itu telah memotong dan memakan tubuh seseorang yang tengah bertapa di daerah itu. Tubuh itu telah berubah menjadi sebatang pohon sehingga tidak dapat dikenali lagi.
Karena Patih Laluntur dan Patih Sasanggan telah memakan tubuh seorang pertapa, seluruh badan mereka pun ditumbuhi sisik tebal, muncul ekor yang keras, kedua kaki dan tangan mereka juga berubah menjadi kaki dan tangan buaya dengan kuku-kuku runcing. Demikian pula kepala mereka, telah berubah menjadi kepala buaya. Jadilah kedunya, dua ekor buaya putih.
Kedua ekor buaya putih itu merangkak menjelajahi hutan dan rimba belantara untuk mencari laut sebagai tempat kediaman mereka. Keduanya terus mandusur hingga bertemu dengan laut.
Ketika hujan turun, titik-titik air yang menyatu mengalir melewati jalan yang dilalui kedua buaya itu. Makin sering hujan turun, terjadi pengikisan tebing sungai.
Kemudian akibat erosi vertikal hebat aliran yang tadinya kecil berubah jadi besar dan bertemu dengan aliran di tempat lain. Lama-lama aliran itu menjadi sungai, hingga terbentuklah Sungai Barito. (B-3)
Sumber cerita: kaskus.co.id








