LAMANDAU –

BORNEONEWS, Nanga Bulik - Cuaca Panas dan minimnya curah hujan mengakibatkan munculnya titik hotspot yang berpotensi menyebabkan kebakaran lahan di sejumlah kecamatan di Kabupaten Lamandau. Terbanyak hotspot muncul di Kecamatan Belantikan Raya, Kecamatan Lamandau, dan Kecamatan Delang.

Dalam beberapa pekan terakhir, di Kabupaten Lamandau sudah beberapa kali terjadi kebakaran lahan. Meski demikian, kebakaran lahan yang terjadi belum mempengaruhi kualitas udara di daerah setempat, saat ini masih relatif aman dan belum terdampak kabut asap akibat kebakaran lahan.

Menanggapi hal tersebut, Kapolres Lamandau AKBP Bronto Budiyono meminta agar masyarakat semakin waspada terhadap potensi kebakaran, baik yang disebabkan oleh pembakaran sampah maupun aktivitas pembukaan lahan.

Ia juga mengingatkan para pemancing, maupun pengendara yang melintas di lahan-lahan kering, agar berhati-hati dengan puntung rokok supaya tidak dibuang sembarangan.

Kapolres menegaskan, pihaknya akan selalu merespons cepat segala laporan maupun kemunculan hotspot yang terdeteksi, sehingga Karhutla dapat dikendalikan dengan optimal. Jika ada unsur pidana terkait Karhutla, maka akan ditindak tegas.

--page

“Dalam sepekan ini cukup banyak titik api bermunculan, anggota rutin patroli dan mendatangi lokasi kebakaran lahan bersama personel TNI maupun instansi terkait. Tim gabungan lakukan pengecekan dan pemadaman api,” terang Kapolres saat dikonfirmasi pada Kamis, 24 Agustus 2023.

Sementara, upaya sosialisasi kepada masyarakat juga terus dilakukan oleh anggota Bhabinkamtibmas. Ia berharap kebiasaan penduduk untuk berladang berpindah tidak dilakukan, karena sebagian dari mereka masih sering melakukan pembakaran ketika membuka lahan.

“Hingga saat ini belum ditemukan, harapannya kebiasaan (membuka lahan dengan cara membakar) ini dihentikan,” pintanya.

Kapolres membeberkan, sepekan terakhir ada 16 titik api yang terpantau satelit dengan luasan lahan yang terbakar bervariasi. Daerah yang rawan kebakaran berada di Kecamatan Belantikan Raya, Kecamatan Lamandau, dan Kecamatan Delang.

Bronto menegaskan, titik panas yang muncul tidak semua indikator Karhutla, ada yang terdeteksi dari suatu lokasi dengan suhu relatif tinggi yang setelah dicek, ternyata suhu panas dari atap seng sebuah gedung lapangan futsal, cerobong asap pabrik kelapa sawit (PKS) dan pembakaran sampah oleh warga.

“Saat ini musim kemarau yang menyebabkan banyak daun dan ranting mengering, kondisi ini sangat rawan terjadi kebakaran, sedikit ada api pemicu bisa berbahaya,” tandasnya.

(HENDI NURFALAH/Y)