BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pelajar di Kotawaringin Barat (Kobar) terpaksa memilih berangkat sekolah dengan mengendarai sendiri kendaraannya. Ini karena minimnya bus sekolah milik Pemerintah Kabupaten Kobar.
Saat ini, bus sekolah yang ada berjumlah empat unit. Dengan luas wilayah yang mencapai 10.075.900 Km2, tentu saja jauh dari kata ideal. Bahkan untuk melayani pelajar di dalam kota Pangkalan Bun saja belum mencukupi.
"Jangan heran jika banyak anak sekolah 'seliweran' atau berangkat ke sekolah mengendarai sendiri kendaraannya," sebut Ketua DPRD Kabupaten Kobar Triyanto. Senin (11/4/2016).
Seharusnya, kata Triyanto, sudah saatnya pemkab melalui dinas terkait mengupayakan fasiltas angkutan transportasi itu. Jika mampu menyediakan pendidikan gratis, seharusnya juga mampu menyediakan fasilitas penunjangnya.
"Perlu pengadaan bus sekolah, halte dan fasilitas transprotasi yang memadahi bagi anak-anak kita (pelajar)," ucapnya.
Di Kabupaten Kobar, sebut Triyanto, banyak perusahaan besar beroperasi. Sudah semestinya, pihak Pemkab menjalin komunikasi untuk pengaturan pembagian tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR).
"Daripada setiap perusahan memberikan CSR-nya secara sporadis, kenapa tidak disinergiskan dengan program pemerintah setempat," cetus politisi Partai Gerindra itu. "Jadi jelas ke mana perusahaan memberikan CSR-nya, pun demikian pemerintah bisa sama-sama ikut memantaunya," kata Triyanto lagi.
Dikonfirmasi terpisah, Bupati Kobar Bambang Purwanto mengaku sudah memasukkan pengadaan bus sekolah dan halte ke program kerjanya. Namun pihaknya masih akan melakukan sejumlah pengkajian di lapangan.
"Itu program saya. Masih kita kaji arus anak sekolah dari mana dan ke mana. Kita akan prioritaskan dulu arus terbesar," tandas Bupati. (CR-1/m)


