Pagi di Desa Purbasari, Kecamatan Pangkalan Lada, Kabupaten adalah pagi yang bersemangat. Hal itulah yang terlihat di kawasan pertanian seluas 25 hektare ini. Lahan itu, pada awalnya ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat sebagai kawasan pertanian.
Oleh: Koko Sulistyo
Senin (11/4/2016) siang itu terik bukan main. Bahkan tak terasa sisa hujan yang mengguyur malam sebelumnya. Di salah satu petak sawah, empat orang terlihat begitu giat bekerja. Mereka terdiri dari dua orang perempuan dan dua orang pria.
Salah satunya adalah Gino, ia memiliki lahan pertanian seluas 100 x 75 meter. Di atas lahan tidak seberapa luas itu ia bersama keluarganya menebar harapan.
Ada satu bagian di area pertaniannya yang ia jadikan lahan penyemaian padi jenis Ciherang. Semaian padi yang menghijau setinggi 10 centimeter itu yang bakal ia tanam.
Borneonews awalnya tidak mau mengganggu keasyikan keluarga itu bekerja. Namun, melihat kawasan yang pada tahun 2013 merupakan proyek cetak sawah Distanak Kobar dipenuhi kayu-kayu berbagai ukuran itu menggelitik Borneonews untuk menelisik lebih dalam.
Terlihat Gino menghentikan kegiatannya, genggaman semaian padi ia berikan kepada perempuan berperawakan kecil di
sebelahnya. Ia pun menghampiri Borneonews yang memperhatikan mereka bekerja dari atas babat (irigasi).
Menurut Gino, pada tahun 2013 lalu, saat ada proyek pengerjaan cetak sawah, kayu-kayu tersebut tidak dibersihkan oleh alat berat, sehingga sudah 3 tahun ini pun kayu-kayu itu masih tertancap kokoh. Ia pun terpaksa sedikit-demi sedikit mencabuti kayu (tunggul) itu agar area persawahannya bisa ia tanami dengan maksimal.
Walau begitu, masa tanam lalu ia masih mendapatkan hasil panen padi sekitar 3 ton. Tahun ini ia mencoba peruntungan kembali dengan mulai menanam di musim tanam Maret - Oktober.
“Melihat kondisi kayu-kayu ini sepertinya butuh waktu 10 tahun untuk bisa menjadikan kawasan ini sebagai areal persawahan ideal, sementara ini belum bisa dibajak menggunakan alat,” beber Gino, Senin (11/4/2016).
(B-12)


