Serangan virus flu singapura di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) ternyata sudah mengganas. Penyakit infeksi pada kaki, tangan, dan mulut (KTM) ini bukan cuma menimpa enam bocah di Kelurahan Madurejo, Kecamatan Arut Selatan (Arsel), kota Pangkalan Bun, tetapi juga di Kecamatan Kumai.     


‘’Dari data yang masuk, kasus flu singapura di Pangkalan Bun terus meningkat,” ungkap Kepala Puskesmas Arsel, Rita Way, Senin (11/4/2016). 


Sayangnya, dia belum bisa memberi data pasti peningkatan jumlah kasus flu singapura itu. Tetapi, selain di Madurejo, disebutkan di antaranya ada di kawasan Kelurahan Mendawai.


Sementara di Kecamatan Kumai, salah satunya terdeteksi di Desa Sungai Tendang, sejak dua pekan lalu. Dokter awalnya hanya menyebutkan bahwa itu penyakit cacar. 


‘’Setelah sembuh, baru dokter itu mengakui bahwa anak saya terkena flu singapura. Saya dengar ada juga penderitanya di Kelurahan Kumai Hulu,” kata Baskoro, orangtua salah satu korban serangan flu singapura di Sungai Tendang. 


Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan (PMK) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kobar, Arif Susanto, membenarkan serangan wabah flu singapura itu. ‘’Tapi saya masih di luar daerah, belum bisa memberikan data,” katanya.


Menurut jurnal kesehatan, dinamakan flu singapura karena awalnya mewabah di Singapura pada 2000. Pemerintah negara pulau itu sampai mengimbau seluruh restoran siap saji, kolam renang, dan tempat bermain anak-anak ditutup untuk sementara dan sekolah diliburkan.


Tanda-tanda terserang flu singapura yang disebabkan virus RNA itu adalah ruam atau bintik-bintik bahkan bentolan merah dan lepuhan pada kulit. Gejala awalnya adalah demam atau panas tinggi.


Saling menular


Itu pula yang dialami enam bocah di Kelurahan Madurejo dan seorang di Desa Sungai Tendang. Penyebarannya melalui udara maupun kontak langsung dengan penderita.


“Ini kayaknya aku juga mulai ketularan. Sudah ada enam bintik di tangan kananku,” kata Masrudin, warga RT 4 Kelurahan Madurejo, kemarin.


Ia semula melaporkan anak balitanya terkena flu singapura akibat tertular teman mainnya. “Kalau anak-anak itu badannya semua panas. Mungkin karena kita sudah dewasa, gejalanya berbeda (suhu badan tidak begitu panas),” kata Masrudin. (B-1)