PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Peternak babi di Kota Palangka Raya mengeluhkan sulitnya mendapatkan anakan babi untuk diternak. Hal ini pasca-merebaknya Demam Babi Afrika atau yang dikenal ASF pada akhir 2021 hingga awal 2022 lalu yang menyebabkan banyak babi di peternakan mati.

"Kita mau beli anakan saya susah carinya sekarang. Saya sudah pesan 3 ekor anakan masih belum datang ini sekarang," kata Kaniuras, peternak babi di bilangan Tingang, Kota Palangka Raya kepada Borneonews pada Senin, 4 September 2023.

Menurut Kaniuras, pada saat ASF menyebar di Palangka Raya kala itu dirinya memiliki 10 ekor babi yang secara bergiliran mati satu per satu.

"Setelah beberapa ekor sudah mati, pihak Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palangka Raya mendatangi kami dan memberikan vaksin ASF kepada beberapa ekor babi kami yang tersisa. Namun tampaknya sudah terlalu terlambat juga karena yang tersisa pun menyusul mati semua," terang Kaniuras.

Pasca kematian seluruh ternak babinya, menurut Kaniuras, DPKP Kota Palangka Raya kemudian memberikan sepasang babi lagi sebagai bantuan ternak.

--page

"Ada kemarin DPKP kasih sepasang babi lagi. Tapi sepertinya virus ASF di kandang kami ini masih belum bersih semua sehingga yang dia itu pun mati juga. Sekarang sudah setahun lebih kami tidak memelihara babi, mau memelihara lagi tapi menunggu anakan babi yang dipesan ini datang," tuturnya.

Saat ini, lanjutnya, peternak babi pun tidak mau menjual babi yang masih menyusu pada indukan. Selain itu juga jumlahnya tidak banyak. Bahkan yang dirinya pesan 3 ekor pun belum tersedia hingga sekarang.

"Makanya wajar kalau harga babi di pasar mahal sekali sampai Rp120.000 karena memang jumlah babi yang diternak juga sedikit di Palangka Raya ini," bebernya.

Sebelumnya, Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat, Veteriner, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Ternak, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan atau DPKP Kota Palangka Raya, drh Ganjar Priyatno mengatakan bahwa pasca penyebaran ASF populasi ternak babi di Kota Palangka Raya saat ini menurun hingga 90 persen.

"Saat ini populasi babi di Kota Palangka Raya ini sudah menurun sampai 90 persen," kata Ganjar.

Menurut Ganjar, penurunan populasi ini terjadi pasca banyaknyaa ternak babi milik masyarakat yang mengalami kematian saat virus ASF merajalela pada akhir 2021 hingga awal 2022 ini.

"Sekarang ini ternak babi yang tersisa hanya sekitar 10, paling banyak 15 persen dari jumlah awalnya di akhir tahun 2022 kemarin. Ini jumlah ternaknya ya, bukan jumlah peternaknya," jelasnya lagi.

Karena jika berbicara jumlah peternaknya menurut Ganjar tentu akan berbeda lagi bahkan lebih memprihatinkan karena banyak peternak yang gulung tikar dan berhenti beternak. (TESTI PRISCILLA/Y)