BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalteng, Agustan Saining memberikan informasi bahwa meski petugas lapangan melakukan pembasahan lahan yang terbakar, tetap ada bara api di dalamnya karena kedalaman lahan gambut yang cukup dalam. Untuk memadamkannya, tentu membutuhkan waktu yang lama.
"Makanya masih ada bara-baranya, sebab 4 km rata-rata gambut. Sudah mulai tebal 1 meter ke atas sudah ada gambutnya," ucapnya saat diwawancara awak media, Senin, 4 September 2023.
Hal tersebut, ujarnya, berdasarkan hasil pemantauan di lapangan secara langsung. Untuk angin, dirinya mengutarakan berdasarkan informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisik (BMKG), paling banyak dari daerah selatan.
Ia memperkirakan, ada kebakaran hutan dan lahan di sekitar wilayah Marabahan Provinsi Kalsel. "Termasuk wilayah pesisir sedikit Kapuas dan anginnya ke arah kita, Kota Palangka Raya dan ada dampak asap-asap," katanya.
Dirinya juga mengutarakan, wilayah Kota Palangka Raya sudah terkendali kejadian kebakaran hutan dan lahan.
--page
"Kota Palangka Raya memang ada beberapa titik, namun tergolong kecil dalam lingkup pemerintah provinsi. Dalam sehari, titiknya minimal 9-10 sehari," bebernya.
Ia menambahkan, kejadian kebakaran hutan dan lahan wilayah Kalteng paling banyak terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Sampit), Kapuas dan Pulang Pisau. (MARINI/Y)









