BORNEONEWS, Sydney - Sebanyak 43.000 turis Indonesia naik kapal pesiar asing dari Singapura keliling ke sejumlah destinasi lain di Asia.
"Indonesia itu potensi baharinya besar sekali, tapi tidak dioptimalkan.Tahun 2014, sebanyak 43.000 turis Indonesia naik kapal pesiar asing dari Singapura keliling ke sejumlah destinasi lain di Asia. Bayangkan berapa devisa kita yang keluar dari situ?" kata Kepala Bidang Festival Pasar Asia Pasifik Kementerian Pariwisata Adella Raung, di Sydney, Selasa (12/4/2016).
Menurut dia, alangkah lebih baik jika kapal-kapal pesiar asing itu bisa beroperasi di Indonesia guna menahan agar puluhan ribu wisatawan dalam negeri itu tetap berlibur di Tanah Air.
Opsi yang lebih baik lagi, ujar dia, membangun sendiri kapal pesiar dan mengoperasikannya di perairan Nusantara.
"Lagipula kalau dibandingkan Langkawi atau lainnya, Indonesia itu indah sekali," katanya.
Sayangnya, lanjut Adella, keterbatasan infrastruktur dan regulasi menyebabkan paket wisata kapal pesiar masih terkendala.
Selain karena infrastruktur pelabuhan yang belum mumpuni, termasuk fasilitas pendukung di destinasi wisata, masih ada aturan yang membuat kapal pesiar asing sulit masuk ke Indonesia.
"Dulu, kapal pesiar asing tidak boleh beroperasi di kawasan Nusantara dan mengangkut penumpang Indonesia karena mereka harus berganti kapal terlebihdahulu. Tapi saat ini akses 'cabotage' itu sedang digodok agar kapal pesiar asing bisa dengan mudah masuk dan beroperasi di Indonesia," jelasnya.
Kendati aturan tersebut belum dapat dipastikan secara detail, Adella memastikan upaya yang menjadi turunan Perpres Nomor 105 Tahun 2015 tentang Perpres No.105/2015 tentang Kemudahan Yacht dan Kapal Pesiar Asing Masuk ke Indonesia diharapkan dapat mendorong pengembangan wisata bahari Indonesia.
"Ini tentu perlu, karena kalau dibiarkan turis Indonesia pergi keSingapura dulu, lalu jalan-jalan pakai kapal pesiar mewah ke negara lain,akhirnya nanti akan membuat devisa kita bocor," katanya. (ANT/*)








