BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Menyikapi eskalasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meningkat secara signifikan dalam beberapa waktu terakhir, Manggala Agni Daerah Operasi (Daops) Kalimantan III/ Pangkalan Bun siaga 24 jam.
Meningkatnya karhutla seiring dengan musim kemarau yang memasuki puncaknya, sehingga berpotensi menimbulkan Karhutla yang semakin masif dan mengakibatkan kabut asap.
Kepala Daops (Kadaops) Manggala Agni Kalimantan III/ Pangkalan Bun Binsar Oktavianus Togatorop menyampaikan, pihaknya bersama instansi dan steakholder terkait, terus melakukan upaya pemadaman di beberapa titik yang terdeteksi karhutla, baik yang diterima langsung dari laporan masyarakat maupun berdasarkan titik panas (Hot Spot) yang terpantau melalui satelit.
"Upaya pemadaman terus kami lakukan di 3 kabupaten dari 5 kabupaten pada wilayah kerja kami, di antaranya kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kabupaten Kotawaringin timur (Kotim) dan Kabupaten Sukamara, pemadaman darat dilakukan oleh Manggala Agni bersama instansi terkait, serta dukungan dari satgas udara juga terus dilakukan melalui water bombing untuk memadamkan di lokasi yang tidak terjangkau oleh tim darat," ujar Binsar Oktavianus Togatorop, pada Selasa, 5 September 2023.
Binsar Melanjutkan Selama kurun waktu dari Juni – Agustus pihaknya telah melakukan pemadaman karhutla sebanyak 107 titik dan mendeteksi 4.803 pantauan titik panas di 5 kabupaten wilayah kerja manggala agni daops kalimantan III/ Pangkalan Bun.
--page
"Pemadaman adalah tindakan terakhir yang kami lakukan, sampai dengan saat ini kami terus mengedepankan upaya pencegahan, baik itu patroli, sosialisasi dan deteksi dini melalui pemantauan hot spot, dan dari semua hasil pemautan hot spot setelah di lakukan Groun cek kelokasi tidak semuanya terbukti kebakaran," jelasnya.
Karhutla yang semakin sering terjadi di daerah Kalimantan Tengah (Kalteng) sangat berdampak pada menurunnya kualitas udara, meski tidak menimbulkan kabut asap namun tercium bau asap kebakaran, di beberapa tempat tak terkecuali di Kobar dan Kotim.
Berdasarkan Data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) melalui aplikasi ISPUNet milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada Senin, 4 September 2023, di Kabupaten Kotawaringin Barat menunjukan masuk dalam kategori baik, dan Kabupaten Kotawaringin Timur berada dalam kondisi sedang.
Sementara Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat (BPBD Kobar) Pahrul Laji menyampaikan, sebaiknya masyarakat menggunakan masker apabila mencium aroma bau dari asap karhutla, meski saat ini wilayah Kobar bebas dari asap.
"Tanpa kita sadari kita menghirup polusi udara berbahaya ini saat beraktivitas dalam sehari-hari, karena salah satu partikel udara yang kita hirup disebut PM 10 dan PM 2.5. Polusi PM 2.5 bisa meningkat karena udara panas, karhutla, dan polusi lingkungan yang dihasilkan dari gas emisi kendaraan. Jika dihirup, partikel udara ini bisa berbahaya bagi tubuh, terutama paru-paru dan jantung," tuturnya. (DANANG/H)









