BORNEONEWS, Sampit - Selama pusim penghujan yang melanda Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), khususnya di Kota Sampit, membuat produksi sayuran sawi menurun. Banyak tanaman warga mati akibat terlalu banyak menyerap air hujan. Ini berdampak langsung dengan kenaikan harga yang drastis.
Bahkan kenaikan harga sawi ini terbilang sangat tinggi. Jika sebelumnya hanya Rp3.000 per ikat, kini naik menjadi Rp8 ribu hingga Rp9 ribu per ikat.
“Pada musim kemarau, saya jual sawi dengan harga Rp3 ribu. Namun saat ini sudah tidak bisa lagi, karena sangat susah produksinya. Sehingga kami terpaksa menaikkan harganya,” ujar Salman Bahri, petani yang tinggal di Jalan Teratai III, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Selasa (12/4/2016).
Sejak musim penghujan melanda Kotim, hasil produksi tanaman sawi di kebunnya menurun drastis. Akibatnya membuat pasokan ke pasaran juga berkurang.
Dampak musim penghujan terhadap tanaman sawi ini bukan hanya membuat mati saja, namun juga membuat sayur menjadi kecil, dan bahkan panenanya akan lebih lama dibanding pada musim kemarau. Jika dalam satu kali panen pada saat musim hujan mencapai 20 hari, maka pada musim kemarau hanya 14 hari saja sayuran sudah bisa diproduksi.
“Naiknya harga tidak semata-mata hanya karena minimnya produksi, namun juga karena kami harus mengeluarkan biaya lebih untuk membeli obat khusus menghilangkan jamur yang menyerang tanaman sawi,” ucap Salman kepada Borneonews.
Naiknya harga akibat langkanya sayur sawi ini nampaknya akan terus berlanjut hingga cuaca hujan sudah mulai berkurang. Selain itu, para petani juga sangat berharap agar pemerintah daerah bisa memberikan bantuan berupa pupuk atau obat yang tentunya bisa menjaga kondisi tanaman mereka tetap subur. Walaupun sedang memasuki musim penghujang atau sebaliknya. Hal itu bisa membuat kebutuhan sayur di daerah ini terpenuhi, atau bahkan bisa menjual ke daerah lain nantinya. (M HAMIM/m)


