BORNEONEWS, Tamiang Layang - Namanya Hatriani (33). Meski sehari-hari sebagai staf pemberdayaan dan pemasaran Credit Union di Ampah Kota, namun warga RT 04 Desa Turan Amis Kabupaten Barito Timur ini juga memiliki usaha skala rumahan dengan salah satu produknya yang dinamakan Kopi Bartim Dasmarau Sayang Bunda.
Kopi Dasmarau adalah kopi bubuk yang dihasilkan dengan cara ditumbuk menggunakan alu dan lesung kemudian dikemas dalam kemasan standing pouch paper foil. Merek "Dasmarau" sendiri diambil dari ungkapan sehari-hari masyarakat setempat "dasar marauh" yang bisa diartikan "memang enak" atau "benar-benar enak".
"Kami mulai memproduksi kopi sejak tahun 2020 dengan 3 varian yaitu kopi original, kopi jahe merah dan kopi racik rempah," ungkap Hatriani saat diwawancarai, Kamis, 7 September 2023.
Untuk membuat kopi bubuk andalannya itu, Hatiriani membeli bahan baku biji kopi dari dari kerabat yang sebagian besar tanaman kopinya kurang terurus. Hal ini dia maksudkan untuk membangkitkan kembali gairah petani lokal membudidayakan dan merawat tanaman kopinya demi meningkatkan perekonomian keluarga.
Akibat tanaman kopi kurang terawat dan belum ada petani yang membudidayakan dalam skala besar, biasanya mereka menjual biji kopi kepada Hatriani dalam jumlah kecil seperti 0,5 kilogram hingga 5 kilogram. Kopi bubuk yang dihasilkan Hatriani kemudian dikemas dalam kemasan 50 gram dan 100 gram.
"Yang kemasan 50 gram saya jual dengan harga Rp7 ribu, sedangkan yang 100 gram saya jual dengan harga Rp12 ribu," ungkapnya.
Hatriani telah melengkapi legalitas usahanya tersebut sehingga dia dengan leluasa memasarkan produknya baik secara offline maupun online.
"Untuk penjualan cukup stabil karena legalitas produk sudah lengkap. Saya juga jualan secara online di Dekranasda dan Shopee serta menjual kopi ini sebagai oleh-oleh tempat wisata Dam Turan Amis," terangnya.
Makin banyaknya varian kopi instan produksi industri besar menjadi tantangan yang dihadapi Hatriani saat berusaha mengembangkan kopi racikannya.
"Tantangannya sedikit yang suka kopi tumbuk dan lebih memilih kopi instan. Saya juga kurang dukungan dari keluarga dan kantor, seharusnya kita fanatik dengan produk asli daerah kita," keluhnya.
"Selain itu saya masih terkendala permodalan, proses pengolahan yang manual dan sulit membagi waktu karena juga ada produk lain seperti bedak dingin dan wadi ikan," lanjut Hatriani.
--page
Dengan berbagai tantangan yang dihadapi ibu muda ini masih bermimpi agar usahanya terus berkembang dan produk Kopi Dasmarau jadi kebanggaan Barito Timur.
"Impian saya bisa punya perusahaan kopi asli Bartim yang lebih besar, punya kelompok petani kopi dan pohon-pohon kopi di Bartim lebih di perhatikan sehingga bahan baku tersedia cukup," ungkap Hatriani. (BOLE MALO/R)









