Sekretaris Daerah (Sekda) Kotawaringin Barat (Kobar), Masradin, sedang menjadi buah bibir. Bukan karena dia suka narsis, tetapi karena sering menghilang seperti ditelan bumi. Ini menjadi fenomena unik lain di Pemkab Kobar, setelah puluhan PNS Badan Lingkungan Hidup (BLH) mogok kerja dan seorang PNS Disdikpora bolos selama tiga tahun.
Dikabarkan Masradin sakit parah sejak sekitar Januari lalu. ‘’Tapi, anehnya kok tidak mau dibesuk oleh siapa pun. Kami mau besuk, tidak dibolehkan pula,” kata seorang staf Sekretariat Daerah (Setda) Kobar, kepada Borneonews, Selasa (12/4/2016).
Tugas-tugasnya pun terbengkalai. Beberapa di antaranya, berakibat pada tertundanya pembayaran gaji para honorer atau pegawai kontrak. Lalu, tersendatnya segala proses administrasi internal di Setda Kobar.
Sering absennya Masradin juga berakibat kualitas kinerja satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di Pemkab Kobar tak terkontrol dengan baik. Apalagi dia juga menjabat koordinator SKPD dan ketua Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kobar.
Tugas pelayanan publik pun ikut banyak terganggu. Beberapa pengurusan izin mendirikan bangunan (IMB) yang butuh tanda tagan Sekda, misalnya, tak dapat diproses. “Pak Bupati juga enggak mau tanda tangan, kalau tidak dari bawah (sekda) dulu,” ungkap staf Setda tadi.
Bupati Kobar Bambang Purwanto, yang tidak memiliki wakil bupati, mengaku sudah membahas kasus Masradin dengan Badan Kepegawaian Daerah (BKD). Mungkin akan ditunjuk Plt (pelaksana tugas) saja,” katanya. (RD/B-1)


