BORNEONEWS, Kota Batu - Puluhan awak media dari Kalimantan Tengah (Kalteng) menimba ilmu di Kota Batu, Provinsi Jawa Timur. Insan pers dari sejumlah media itu mengasah kemampuan menulis di luar 'kandang' berkat ajakan Bank Indonesia (BI) Kalteng dalam program Forum Komunikasi Media 2023.
BI menghadirkan dua narasumber dari Kompas Institute, Priskilia Sitompul dan Wahyu Haryo. Priskilia lebih fokus pada materi kalimat efektif, sedangkan Wahyu lebih ke penulisan naratif. "Penggunaan bahasa yang baik dan benar, itu sangat penting," ujar Priskilia.
Dia menuturkan, kalimat efektif adalah kalimat yang benar dan jelas, sehingga mudah dipahami orang lain secara tepat. Kemudian, memberikan informasi atau pesan kepada pembaca secara tepat dan akurat. "Syarat kalimat efektif itu hemat (tidak boros), lugas (tidak berbelit-belit), jelas (mudah dimengerti) dan tepat (tidak ambigu)," ungkapnya.
Manajer penyelaras bahasa ini melanjutkan, dalam membuat kalimat efektif, sebaiknya menerapkan istilah keep it and short atau kalimat pendek yang sederhana. Semakin sederhana, kata dia, kalimat akan semakin baik.
"Sebuah paragraf sebaiknya tidak melampaui 50 kata dan dibangun oleh satu sampai empat kalimat. Kalau banyak, usahakan dipecah," paparnya.
--page
Priskilia lalu memberikan contoh tentang kalimat efektif, termasuk penggunaan kata yang baku. Tak hanya itu, dia juga mengingatkan wartawan untuk hati-hati dalam pemilihan kata. Sebab, jika ada satu kata saja yang keliru, maknanya akan berbeda. Oleh sebab itu, diperlukan pengecekan ulang demi menghindari kesalahan.
Sementara itu, Wahyu mengatakan, penulisan naratif adalah penulisan yang menggunakan pendekatan naratif. Artinya, menulis dengan cara bertutur, mengisahkan suatu cerita atau kejadian. Lewat pendekatan naratif, kata dia, penulis mengajak pembaca untuk melihat dan merasakan atau larut dalam alur tulisan.
Dalam pembahasan ini, diwarnai dengan saling tukar pengalaman ketika melakukan peliputan mendalam, termasuk kaitannya dengan penulisan investigasi. Pembahasan semakin menarik hingga tidak terasa batas waktu penyampaian materi melebihi hampir satu jam dari jadwal yang ditentukan.
Wahyu yang juga sebagai Kepala Desk Regional Kompas mengajak insan pers Kalteng untuk lebih dalam ketika menulis berita. Ia pun mencohkan beberapa jenis berita yang bisa diperdalam. Misalnya berkaitan konferensi pers pengungkapan kasus sabu. Wahyu mengajak wartawan tidak hanya menulis penyampaian pengungkapan saja, tapi bisa diperdalam dengan data lain sehingga bisa diketahui seberapa besar tingkat peredaran di suatu daerah.
Wahyu lebih jauh memaparkan tentang jurnalis makna. Dalam hal ini, terdapat beberapa poin yang ia paparkan. Yakni komprehensif mendalam, rumus 3f (flashback, future, forecast) dan investigasi.
--page
"Investigasi memang butuh pembuktian secara ilmiah dan ini penting. Kalau pun tidak sampai ke investigasi (karena risiko besar), setidaknya bisa dilakukan komprehensif mendalam dan rumus 3f," ujarnya.
Apa yang disampaikan Wahyu ini juga sejalan dengan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalteng, Taufik Saleh. Ia pun mengajak wartawan untuk lebih dalam lagi ketika menulis sebuah berita. "Memperdalam berita dan investigasi ini penting," katanya.
Di sisi lain, Taufi Saleh menyampaikan bahwa kegiatan FKM ini diadakan untuk menambah wawasan dan membangun kebersamaan. ”Mudah-mudahan ilmu yang diajarkan bisa bermanfaat bagi rekan-rekan wartawan,” tuturnya.
Kegiatan FKM ini dibuka oleh Taufik Saleh pada Senin, 11 September 2023. Di momen itu, ia didampingi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalteng, M Harris Sadikin, Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Kalteng, Tantawi Jauhari dan Priskilia Sitompul.
Selain mendapatkan wawasan tentang penulisan berita, insan pers Kalteng juga mendapat kesempatan untuk mengunjungi wisata di kota setempat dengan agenda fun offroad hutan pinus dan petik apel. Kegiatan berakhir pada Rabu, 13 September 2023. (BUDI YULIANTO/Y)









