BORNEONEWS, Sampit - Hingga saat ini angka prostitusi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) bukannya mengurang, namun makin bertambah. Kini para pekerja seks komersial (PSK) tidak hanya berada di lokaliasai saja, namun sudah merambah kesejumlah tempat di daerah ini.


Seperti di beberapa hotel melati, kamar kos, dan tempat-tempat tertentu yang dianggap dapat menutup kedok prostitusi tersebut. Namun ada juga yang secara terang-terangan membuka prostitusi tersebut. Seperti halnya di Jalan Muhaamad Hata, sekitar bundaran KB.


Selain hal itu, PSK yang berkedok pelajar SLTA maupun mahasiswi yang lebih dikenal dengan sebutan ayam kampus juga ada di daerah ini. Namun aksi mereka terkadang sangat halus dan hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahuinya.


Melihat hal ini, Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kotim Bima Eka Wardana mengatakan, memang PSK jalanan di daerah ini makin banyak. Hal itu karena kebutuhan ekonomi yang semakin tinggi, dan mobilitas antara penduduk yang ada di luar daerah juga semakin banyak berdatangan ke Kotim ini.


“Tidak hanya lokalisasi di Km 12 Jl Jendral Sudirman, Kecamatan Parenggean, dan Tangar saja yang menyediakan PSK, namun di daerah perkotaan juga banyak PSK jalanan,” ujar Bima, Rabu (13/4/2016).


Bima mengatakan hal tersebut bukan tanpa sebab. Ini terlihat dari dua kali razia penyakit masyarakat yang dilakukan pihaknya. Beberapa di antara yang tertangkap adalah PSK yang memang disediakan di hotel melati, dan juga daerah keramaian Taman Kota Sampit.


Modus yang dilakukan mereka juga terang-terangan, dengan berdiri di pinggir jalan dan menghampiri pria yang singgah di daerah tersebut.


“Sudah enam orang terduga PSK yang pernah kami amankan di sekitar Taman Kota, dan mereka juga pernah terjaring sebelumnya,” kata Bima. 

 

Bima berpendapat, sangat susah menghilangkan PSK liar dari daerah ini. Namun mereka akan berupaya menguranginya dengan memulangkan para PSK yang berasal dari luar daerah, dan memberikan sosialisasi kepada yang memang asli warga daerah ini.


Hal itu dilakukan agar penularan penyakit kelamin, dan HIV/Aids tidak terjadi lagi terhadap sejumlah warga di daerah ini. Para PSK liar ini sangat rentan penyakit kelamin, apalagi tidak pernah terdata berapa jumlahnya, dan baru diketahui saat  razia pekat. (M HAMIM/m)